Dia berjalan menelusuri jalan yang panjang, panas dan terik matahari tidak membuat nya ragu. Keringat yang bercucuran tidak seberapa jika di bandingkan dengan air mata yang telah ia tumpahkan seumur hidup nya.
Ia hanya lelah dengan semua nya, ia hanya ingin semua ini segera berakhir secepat mungkin.
Sampai lah dia di tujuan nya dia menunggu beberapa menit terakhir di hidup nya. Dia berdiri di antara rel kereta api menunggu dengan tenang sambil memejamkan mata nya, sesekali ia menatap langit biru yang tampak ceria dengan awan lembut berwarna putih yang pudar dan dia tersenyum kecil.
Miiiiiinggghhhh minggggg!!
Miiiinggghhhh !!!
Suara sirine kereta api terdengar dari kejauhan. Mengintai mencoba memperingatkan bahwa dia akan lewat. Memperingatkan kalau kamu sebaik nya pergi dari sana. Tapi ia diam mematung tidak peduli akan peringatan itu.
Gadis yang berdiri di rel itu hanya tersenyum lembut menyambut kereta api yang akan menghantam nya. Tidak ada ketakutan yang terlihat, tenang seperti dia sedang memeluk luka. dia tersenyum melihat kematian yang ia rencanakan di depan mata nya. Dan... Kereta api pun melindas nya.
*** *** ***
Ia terbangun dalam keadaan keringat bercucuran di sekujur tubuh nya, walau itu mimpi tapi nampak seperti nyata. Ia merogoh rogoh sekitar bantal mencari handphone nya hendak melihat jam namun saat dia mendapat kan handphone nya tiba-tiba pintu kamar terbuka.
"Airin baru saja mama mau bangunin, ayo bangun jangan lupa sholat subuh."
"Iya ma" ia mengusap mata nya dan berdiri keluar dari kamar nya.
Ia melanjutkan rutinitas nya bangun subuh dan membantu mama nya terlebih dahulu. Menggulai donat, mama nya adalah ibu kantin di sebuah yayasan TK (taman kanak-kanak). Setiap hari ia di bangunkan pukul lima subuh setelah menggulai donat tidak lupa ia juga membantu membereskan pekerjaan kecil yang ada di rumah seperti mencuci piring menyapu dan mengepel rumah.
Saat ini waktu sudah menunjukan pukul setengah enam pagi dia bergegas merapihkan tas nya dan minum sisa teh manis yang tersedia di meja.
"Ma aku pergi sekolah ya mau ngejar bis sekolah."
"Iya makasih ya udah bantu mama hati-hati di jalan jangan lupa Salim sama bapak."
"Iya mah!" Tidak lupa dia mencium mama nya sebelum pergi sekolah. Dia bergegas dan dia nampak senang melihat bis sekolah yang baru datang jadi ia bisa menyisihkan sebagian uang saku nya untuk beli keperluan yang lain. Sampai di daerah permai sebuah pasar di dekat pelabuhan kota Jakarta Utara, nampak Siwa dan siswi lain yang masuk ke dalam bis sekolah juga. Sampai dia melihat teman sebangku nya hari ini yang bernama nia ikut naik juga.
"Uniiiii sini !!" Sontak teman nya menengok ke arah suara. Dia tampak malu dan berseri-seri.
"Una uni Una uni... Malu ege"
"Lah elu kan emang orang Padang emang gue salah ?"