Debu pekat menyalak, menghalau pandangan mata yang sudah lelah oleh sengatan mentari. Di bawah lindungan helm safety dan rompi proyek yang mulai memudar warnanya, Sinta berdiri tegap di bibir pit-tebing tanah merah yang menghadap langsung ke jalur hauling. Matanya tajam, menyapu pergerakan alat-alat berat yang tampak seperti mainan dari ketinggian itu.
Kulit wajahnya tak lagi porselen; ia kusam, dibasuh debu dan dipanggang panas yang kini ia sebut sebagai parfum harian. Kuku-kukunya dipangkas pendek, tak ada ruang untuk cat warna-warni.
Saat perempuan sebayanya sibuk mematut gaun merah jambu di balik etalase mall, sejauh mata Sinta memandang, hanya ada tarian ekskavator dan iring-iringan truk yang mengeruk isi bumi.
Ia mengangkat radio panggil di tangannya, menekan tombol samping dengan jempol yang sedikit kasar.
"Kepada Wheel Loader area barat, ada yang melebihi batas kecepatan lebih dari 20 km/jam. Harap kurangi kecepatannya, saya memantau dari atas."
Suara Sinta datar, namun tegas. Kalimat itu segera pecah menjadi gemerisik statis yang memekakkan telinga melalui frekuensi radio.
Gema walkie-talkie itu seolah membelah raungan mesin loader yang sedang memacu kecepatan di bawah sana. Sinta tidak hanya memberi peringatan; ia sedang menegaskan keberadaannya di tempat yang didominasi oleh lelaki yang sering kali pura-pura tuli.
Dari ketinggian, ia melihat debu yang mengepul di belakang ban raksasa loader itu sedikit mereda. Si pengemudi mengerem. Namun, Sinta tahu, di dalam kabin baja yang tertutup rapat itu, sang sopir mungkin sedang menggerutu atau mencibir namanya.
Bagi Sinta, parfum mentari bukan masalah, tapi ketidakpatuhan adalah luka bagi profesionalitasnya. Di tambang ini, suaranya harus lebih keras dari mesin, atau ia akan terkubur bersama debu-debu yang ia pijak.
Sinta segera turun dari menara pantau, melompat masuk ke dalam kabin Double Cabin 4x4 putih yang badannya sudah tertutup lapisan lumpur kering.
Ia memacu mesin, mengemudi di jalan terjal penuh bebatuan yang membuat badannya terguncang hebat di balik kemudi. Dari sisi barat menuju utara, pandangannya hanya dipenuhi debu kuning kemerahan yang berterbangan, menutupi medan yang kian curam.
Di depannya, raksasa-raksasa besi mulai menampakkan diri di balik kabut debu. Suara bising mesin Excavator PC2000 yang mengeruk dinding tebing bersahutan dengan raungan Dump Truck bermuatan puluhan ton batu bara yang melintas gagah di samping mobil kecilnya.
Di sudut lain, sebuah Bulldozer meraung rendah, mendorong gundukan material sisa atau overburden menuju area disposal.
Telinga Sinta yang dibalut jilbab dan helm itu tetap tajam menangkap gerisik dari radio panggil di dasbor mobil. Gema walkie-talkie dari orang-orang yang saling bersahutan menciptakan kegaduhan frekuensi yang tak putus-putus.
"Loading point satu, unit DT-05 ready!" suara berat seorang pria terdengar di sela statis.
"Copy, lanjut ke disposal area B! Awas jalanan licin bekas siraman water truck," sahut yang lain.
Sinta mencengkeram kemudi lebih erat saat mobilnya berpapasan dengan Wheel Loader yang tadi ia tegur.