Langit di atas Pit Barat seolah pecah. Rintik hujan yang semula hanya peringatan kecil kini berubah menjadi tirai air yang masif, menghapus pandangan hanya dalam hitungan detik.

Sinta menyambar kembali walkie-talkie-nya dengan tangan yang mulai dingin oleh suhu yang merosot tajam.
"Unit DT-12, hentikan paksaan gas! Anda makin tenggelam! Tetap di kabin, jangan lakukan pergerakan bodoh!" perintah Sinta.
Lewat jendela mobilnya yang buram, ia melihat kabin truk raksasa itu berguncang hebat. Raungan mesinnya terdengar menyayat, ban setinggi manusia itu berputar sia-sia (slip), menciptakan parit lumpur yang siap menelan as roda.
Sinta tahu, Pak Herman—sopir senior di dalam sana—sedang bertaruh dengan nyawa dan egonya.
Sinta segera memacu mobil operasional 4x4 putihnya menuruni jalan terjal. Ban mobilnya melibas genangan air yang mulai membentuk aliran sungai kecil di sepanjang jalur hauling.
"Unit DT-12, dengar saya! Aktifkan parking brake dan retarder sekarang! Jangan hanya injak rem kaki, sistem akan blong jika tertekan panas dan beban muatan!" teriak Sinta lagi.
"Sinta, ini jalur tanjakan! Kalau aku lepas kontrol, unit ini meluncur mundur menghantam unit di bawahku!" balas suara Herman, parau dan penuh ketakutan melalui frekuensi radio.
"Jangan berdebat! Kunci semua sistem! Aku jemput kamu sekarang. Begitu mobilku merapat ke tangga kabin, kamu harus lompat!"
Sinta memacu kuda besinya dengan nekat.
Ia harus menjaga keseimbangan kemudi agar tidak tergelincir masuk ke dalam jurang pit sedalam seratus meter di sisi kirinya. Saat ia mendekat, truk raksasa itu tampak seperti monster besi yang sedang meronta.
Lumpur merah menciprat deras ke kaca depan mobil Sinta saat ban truk itu terus berputar tanpa traksi.
Sinta memposisikan bak belakang mobilnya sedekat mungkin dengan tangga kabin truk.
"Sekarang, Herman! Lompat!"
Pak Herman sempat ragu, namun saat ia merasakan getaran tanah di bawah ban truknya mulai bergeser—tanda awal longsoran kecil—ia pun melompat.
Tubuh tambunnya mendarat dengan dentum keras di bak belakang mobil Sinta. Tanpa menunggu sedetik pun, Sinta langsung menancap gas sedalam-dalamnya, ban mobilnya mencengkeram bebatuan tajam untuk keluar dari zona maut tersebut.
Sinta menyambar radio panggil dengan tangan kiri yang masih bergetar.