MESIN BESAR

zanu ariska wakhida ainia
Chapter #3

BAB 3 PERTANGGUNG JAWABAN

Pak Herman beralih sejenak, lalu kembali dengan sebotol air mineral untuk Sinta. Di telinganya, suara sahutan "Copy" dari radio masih terdengar bersahutan-tegas dan penuh kedisiplinan.

Sinta masih berdiri mematung, sisa ketegangan evakuasi tadi masih membekas di garis wajahnya.

​"Kamu minum dulu, Sin," ujar Pak Herman pelan.

"Untuk bekerja secara rasional, kamu butuh ruang yang tenang. Ambil minum ini dan carilah ketenangan itu sejenak."

​Sinta menoleh, menatap pria yang baru saja ia selamatkan itu dengan pandangan yang sedikit melunak.

Ia menerima botol itu. "Makasih, Pak," jawabnya singkat. Sinta meneguk airnya sedikit, lalu kembali memasang raut profesionalnya.

"Saya harus segera ke kantor. Tim inti harus berkumpul untuk membicarakan masalah ini dan menyusun laporan kejadian."

​Tanpa membuang waktu, Sinta memutar tubuhnya dan memanggil nama-nama personil di bawah arahannya yang sudah menunggu di area berteduh.

"Tian, Rita, Andi, Joko! Ikut saya ke kantor sekarang. Kita lakukan evaluasi darurat."

​Keempat orang itu segera bangkit, mengikuti langkah sigap Sinta menembus sisa-sisa rintik hujan menuju gedung utama kantor tambang.

​Langkah kaki mereka yang berat meninggalkan jejak lumpur di lantai kantor yang bersih.

Sinta, Rita, Tian, Andi, dan Joko masuk ke ruangan Pak Rama-Kepala Pit wilayah itu-dengan kondisi mengenaskan; baju basah kuyup, wajah coret-moret oleh debu yang berubah jadi daki, dan tangan yang masih menggenggam walkie-talkie.

Udara AC yang dingin langsung menusuk tulang, namun suasana di dalam ruangan terasa jauh lebih membekukan.

​Sinta, sebagai pimpinan tim safety, melangkah maju. Ia berdiri tegak di depan meja Pak Rama.

"Lapor, Pak. Hari ini pukul 13.31, hujan turun di area barat dan menyebar cepat ke seluruh pit. Saya mengambil keputusan darurat untuk mengevakuasi seluruh personil."

​Ia menjeda sejenak, menatap mata Pak Rama dengan berani.

Lihat selengkapnya