Kabar mengenai jatuhnya unit DT-12 di Pit Barat menyebar secepat kilat, bahkan hingga ke meja Pak Rama. Meski laporan Sinta terbukti benar secara fakta lapangan, Pak Rama tak bisa memberikan keputusan instan. Segala kerugian materiil tetap harus dilaporkan ke kantor pusat.
Selagi menunggu nasib kariernya diputuskan oleh para direksi di Jakarta, Sinta tetap berusaha profesional. Ia kembali ke mejanya, menyelesaikan sisa administrasi meski bayang-bayang skorsing masih bergelayut di benaknya.
Waktu menunjukkan pukul 18.00. Hujan di luar sudah jauh lebih reda, menyisakan gerimis tipis dan aroma tanah basah yang menyengat. Jam kerja Sinta berakhir, saatnya ia berganti shift dengan tim malam.
Sinta melangkah menuju ruang operasional untuk melakukan serah terima tugas (handover). Di sana sudah menunggu Fendi, pengawas safety untuk shift malam.
"Kondisi Pit Barat close total, Fen,"
buka Sinta sambil menunjuk titik-titik rawan pada peta digital di layar monitor.
"Ada satu unit DT-12 yang tertimbun di jalur utama. Tanah masih belum stabil. Jangan ada pergerakan alat berat di area itu sampai tim survey memberikan lampu hijau besok pagi. Kejadiannya tadi jam 13.31, semua kronologi sudah ada di laporan ini."
Fendi mengangguk serius, menyimak penjelasan Sinta yang sangat detail tanpa melewatkan satu pun risiko teknis. Setelah semua tanggung jawab berpindah tangan, Sinta menghela napas panjang.
Ia mengambil tasnya, berjalan bersama Rita, Tian, Andi, dan Joko menuju bus perusahaan yang sudah terparkir di depan kantor.
Di dalam bus, suasana terasa sunyi. Kelelahan fisik dan mental tampak jelas di wajah mereka. Bus bergerak lambat menyusuri jalanan tambang yang gelap menuju area mess karyawan.
Sinta menyandarkan kepalanya di kaca jendela, menatap lampu-lampu tambang yang mulai menyala di kejauhan.
Sesampainya di mess, Sinta berpisah dengan rekan-rekannya. Ia melangkah menuju lantai tiga, tempat kamarnya berada. Lorong mess itu sunyi senyap; sebagian besar karyawan sudah sibuk beristirahat atau berada di ruang makan.
Cahaya mentari yang mulai tenggelam memberikan rona jingga yang redup di sepanjang jendela lorong.
Sinta membuka pintu kamarnya, sebuah ruangan yang cukup luas untuk ia tinggali sendiri. Tanpa sempat melepas lelah lebih lama, ia langsung merebahkan tubuhnya di atas kasur.
Matanya menatap langit-langit kamar. Dalam kesunyian itu, ia hanya bisa berharap bahwa integritasnya hari ini cukup kuat untuk menyelamatkan masa depannya, sebagaimana keputusannya telah menyelamatkan nyawa Pak Herman.
Sinta meraih ponsel di nakas, jarinya bergetar pelan saat menyentuh ikon kontak dengan nama "Ibu". Deringan pertama belum usai ketika sambungan langsung terangkat.