Waktu terus bergulir, menyeret sisa-sisa awan mendung yang tadi siang nyaris merenggut nyawa di Pit Barat. Langit yang semula pekat dan mengamuk, kini perlahan meluruhkan kemarahannya. Badai telah benar-benar reda, menyisakan aroma tanah basah dan hawa dingin yang menusuk tulang.
Kini, rembulan mulai duduk manis di singgasananya, bertahta dengan cahaya perak yang megah. Ia seolah baru saja memenangkan pertarungan melawan awan hitam, berdiri tegak menyinari bumi yang masih basah.
Setelah membersihkan diri dan membasuh sisa-sisa debu yang menempel di pori-pori kulitnya, Sinta keluar dari kamar. Ia menjinjing kantong berisi seragam kotor untuk diletakkan di area laundry mess.
Langkah kakinya kemudian membawa Sinta menuju Mess Hall—sebuah ruangan besar yang menjadi jantung kehidupan para pekerja saat malam tiba. Di sana, aroma masakan yang menggugah selera memenuhi udara, hasil karya para koki profesional.
Di meja panjang, berbagai menu sudah berjejer rapi, mengepulkan uap panas yang seolah memanggil-manggil perut Sinta yang sejak tadi sudah memberontak minta diisi.
Sinta mengambil piring, menyendok nasi dan lauk secukupnya, lalu memilih duduk di sudut ruangan terbuka yang menghadap ke luar.
Dari tempatnya duduk, ia bisa melihat pemandangan langit yang sudah bersih. Rembulan bertahta tinggi, sementara di bawah sana, siluet hutan dan alat berat tambang tampak seperti barisan patung raksasa yang sedang beristirahat.
Diiringi orkestra alam dari suara jangkrik dan gesekan daun-daun pohon yang menari ditiup angin malam, Sinta akhirnya bisa menghela napas panjang.
Namun, di balik indahnya rembulan malam ini, Sinta tahu: besok matahari akan kembali terbit, membawa tagihan atas segala keberaniannya hari ini.
Di tengah keheningan malam yang dingin, saat Sinta baru saja menyesap air minumnya, suara langkah sepatu safety yang berat terdengar mendekat. Suara itu beradu dengan lantai, memecah orkestra jangkrik di luar sana. Sinta tidak menoleh, ia pikir itu hanya pekerja lain yang juga sedang mencari angin malam.
Hingga kemudian, terdengar suara kursi di depannya digeser. Sinta mendongak. Pak Herman sudah duduk di sana, masih dengan raut wajah yang sedikit pucat, namun matanya memancarkan ketulusan yang tidak bisa disembunyikan.
Tanpa sepatah kata pun, Pak Herman menyodorkan ponselnya yang masih dalam keadaan panggilan aktif ke hadapan Sinta.
"Angkatlah, Sin. Ada yang mau bicara," suara Pak Herman serak, sarat dengan emosi.
Sinta mengernyit bingung, namun ia tetap meraih ponsel itu. "Halo?"