MESIN BESAR

zanu ariska wakhida ainia
Chapter #6

BAB 6 AMPLOP COKLAT DAN PENGAWAS MISTERIUS




Langkah kaki Sinta terasa berat saat memasuki kantor HSE. Suasana yang biasanya riuh dengan laporan pagi, mendadak senyap saat sosoknya muncul di balik pintu kaca. Di sana, timnya yang terdiri dari empat orang—termasuk Joko, Rita, Tian, dan Andi—sudah berdiri mematung di sekitar meja kerja Sinta.

​Di tengah meja yang biasanya penuh dengan tumpukan dokumen itu, sebuah map cokelat polos tergeletak angkuh. Map itu bukan sekadar kertas; itu adalah surat "vonis" yang dikirim langsung dari Kantor Pusat Jakarta.

​Sinta menarik napas panjang, mencoba menenangkan debaran jantungnya yang masih memacu akibat lari mengejar bus tadi. Ia merapikan rompi safety-nya, membetulkan letak hijabnya yang sedikit miring, lalu melangkah mendekat.

​"Mbak... aku beneran deg-degan," sahut Rita pelan, suaranya nyaris berbisik. Tangannya meremas ujung seragamnya sendiri.

​Sinta tidak menjawab. Ia perlahan meraih map itu. Jemarinya yang sedikit gemetar mulai merobek segelnya. Suasana di ruangan itu mendadak sangat tegang. Dinginnya AC kantor terasa kontras dengan keringat dingin yang mulai membasahi pelipis Sinta.

​Sret...

​Sinta mengeluarkan selembar kertas putih bersih dengan kop surat resmi perusahaan. Matanya dengan cepat memindai baris demi baris kalimat di sana.

​"Gimana, Mbak?" tanya Joko tak sabar.

​Sinta tertegun sejenak, lalu membacakan intinya dengan suara yang lebih tenang dari yang ia duga. "Pusat... memberikan toleransi. Keputusan kemarin dianggap sebagai tindakan pencegahan darurat yang tepat secara teknis, meski melanggar alur komando lapangan."

​"Alhamdulillah!" Rita berseru pelan, hampir melompat.

​Namun, Sinta belum selesai membaca. Matanya terpaku pada paragraf terakhir. Wajahnya kembali menegang.

​"Tapi ada syaratnya," lanjut Sinta.

"Pusat menilai manajemen safety di site kita sedang tidak stabil. Sebagai bentuk pengawasan langsung, besok pagi, pusat akan mengirim satu orang perwakilan untuk bertugas di sini sebagai Senior Specialist Oversight."

​Ruangan itu kembali sunyi.

Mendengar kata "Pengawasan Langsung" berarti satu hal: Seseorang dari Jakarta akan menempel pada Sinta dan Pak Rama setiap detik. Seseorang yang punya kuasa untuk memecat siapa pun jika ditemukan kesalahan sekecil apa pun.

​"Orang pusat?" Andi bergumam. "Itu artinya... kita bakal dipantau habis-habisan."

​Sinta melipat kembali surat itu.

Ia tahu, ini bukan sekadar bantuan pengawasan. Ini adalah ujian sesungguhnya. Dan ia punya firasat, siapa pun yang datang besok, orang itu tidak akan semudah Pak Rama untuk dihadapi.

Setelah koordinasi singkat yang penuh tekanan itu, mereka berlima segera berpencar.

Dengan pikiran yang masih dipenuhi tanda tanya besar tentang siapa sosok dari Jakarta yang akan datang besok, Sinta dan timnya menuju parkiran.

Satu per satu mobil double cabin mereka menderu, membelah jalanan tambang menuju Pit masing-masing. Di dalam kabin mobil yang tertutup rapat, Sinta hanya bisa menatap jalanan berdebu di depannya dengan perasaan tak menentu.

​Sementara itu, di ruangan lain yang jauh lebih mewah dan tertutup, suasana jauh lebih mencekam.

​Pak Rama baru saja selesai membaca surat yang sama.

Namun, ekspresinya sangat berbeda dari Sinta. Tangannya mencengkeram kertas putih itu hingga remuk, urat-urat di lengannya menonjol tegang. Rahangnya mengetat, menahan geraman yang nyaris meledak.

Lihat selengkapnya