MESIN BESAR

zanu ariska wakhida ainia
Chapter #7

BAB 7 LIMA HARI SEBELUM OFF




Pukul 11.53. Matahari tepat berada di atas kepala, membakar apa pun yang tak terlindung di area Pit. Sinta menyeka keringat di dahinya, lalu meraih radio.

​"Informasi untuk Tim B, waktu istirahat dimulai. Silakan parkir unit di tempat aman dan naik ke pondok istirahat. Copy?"

​Setelah mendengar sahutan dari timnya, Sinta melangkah menuju pondok istirahat sederhana yang berdiri di salah satu sisi tebing tambang. Hal pertama yang ia cari adalah air.

Di sudut pondok, ia mengambil wudhu dengan air galon yang tersedia. Di tengah bisingnya alat berat yang mulai mereda, Sinta menggelar sajadah kecilnya.

​Shalat di atas pit, dinaungi atap seng sederhana dengan angin kencang yang membawa sisa debu, selalu memberikan ketenangan yang berbeda. Di sujudnya, ia menitipkan doa untuk anaknya di rumah, juga untuk keselamatannya sendiri di medan tempur ini.

​Begitu salam, bertepatan dengan Joko, Rita, dan kawan-kawan yang baru sampai dengan napas terengah namun wajah ceria. Mereka mulai membuka kotak makan siang masing-masing. Aroma nasi hangat dan sambal mulai memenuhi pondok.

​"Lima hari lagi, Mbak," sahut Joko sambil menyuap nasi dengan lahap. Matanya berbinar. "Lima hari lagi kita off."

​Sinta tersenyum tipis. "Iya, lima hari lagi."

​"Dua minggu tanpa deru mesin, tanpa tanah merah, dan tanpa bau solar," Rita menimpali dengan nada puitis yang dipaksakan, memicu tawa kecil di antara mereka.

"Aku mau tidur sepuasnya tanpa harus dengar alarm jam empat subuh." ​Selama enam minggu mereka berkawan dengan terik matahari dan maut yang mengintai di balik lereng, dan kini hadiahnya sudah di depan mata: pulang ke rumah.

Kembali menjadi manusia biasa, bukan sekadar angka di laporan produksi.

​Namun, di tengah obrolan hangat itu, Sinta terdiam sesaat. Pikirannya melayang.

Jika besok orang pusat datang dan menemukan "hal janggal" seperti yang dikhawatirkan Pak Rama, apakah mereka masih bisa pulang dengan tenang dalam lima hari ke depan? Ataukah masa libur mereka akan terancam oleh investigasi besar-besaran?

​"Mbak Sinta mau pulang ke mana dulu? Langsung ketemu si kecil?" tanya Andi, membuyarkan lamunannya.

Sinta baru saja hendak menjawab pertanyaan Andi soal anaknya di rumah, saat hembusan angin kencang menerbangkan sedikit debu ke arah pondok. Ia tersenyum lembut, membayangkan pelukan hangat yang menantinya lima hari lagi.

​"Iya, langsung pulang. Anakku sudah minta dibelikan sepatu baru," jawab Sinta singkat. Matanya menerawang menatap hamparan Pit yang luas.

"Semoga saja lima hari ke depan semuanya lancar. Tidak ada insiden, tidak ada kejutan pahit."

​"Amin!" sahut timnya serempak.

​Mereka kembali melanjutkan makan siang dengan lahap.

Lihat selengkapnya