MESIN BESAR

zanu ariska wakhida ainia
Chapter #8

BAB 8 DOMINASI SANG PENGUASA



​Bunyi decit ban yang beradu dengan aspal kasar kantor terdengar tajam saat Jeep putih itu menekan rem. Keheningan segera menyusul, namun itu bukan keheningan yang menenangkan. Sinta dan timnya berdiri berjejer rapi di sisi kanan, sementara Pak Rama berdiri di depan dengan sikap tubuh yang dipaksakan tegak.

​Klik.

​Suara kunci otomatis dilepaskan. Pintu kemudi terbuka perlahan. Pada detik itu juga, atmosfer di sekitar kantor seolah tersedot hilang.

Sinta bisa merasakan tekanan energi yang besar dan mendominasi, seolah alam sendiri memberikan ruang bagi sosok yang akan keluar.

Angin tiba-tiba berembus lebih kencang, menerbangkan dedaunan kering di pelataran, menciptakan efek sinematik yang mencekam.

​Lalu, sebuah sepatu proyek mendarat di tanah. Sepatu itu hitam mengkilap, sangat bersih-kontras yang menyakitkan dengan sepatu proyek Sinta dan timnya yang sudah kusam oleh debu abadi.

​Pak Rama maju satu langkah. Ia berdeham, mencoba mengusir kegugupannya sebelum menyodorkan tangan untuk bersalaman.

​Dari balik pintu, muncullah seorang pria tinggi dengan wibawa yang meluap. Kumis tipis di atas bibirnya, rahang yang tegas, dan potongan rambut cepak yang rapi memberikan kesan disiplin tingkat tinggi.

Ia mengenakan kemeja biru muda yang dilapisi rompi proyek berwarna oranye terang yang masih kaku-tanda bahwa itu adalah rompi kualitas premium dari kantor pusat.

​"Selamat datang, Pak Eric, di tanah Borneo. Tepatnya di kantor Pit kami," ucap Pak Rama dengan nada suara yang dibuat sehormat mungkin.

​Pria itu-Pak Eric-tidak langsung membalas salaman Pak Rama. Matanya yang tajam di balik kacamata hitam perlahan menyapu barisan tim HSE, lalu berhenti tepat di mata Sinta. Tatapannya dingin, seperti mesin pemindai yang sedang mencari cacat pada sebuah sistem.

​Sinta menahan napas. Ia merasa seperti sedang ditelanjangi oleh tatapan itu. Pak Eric bukan tipe orang yang bisa disogok dengan kata-kata manis atau sambutan formal.

​"Terima kasih, Rama," suara Pak Eric rendah dan berat, berwibawa namun ada nada waspada di sana.

Ia akhirnya menyambut salaman Pak Rama, namun matanya tetap tertuju pada area tambang di kejauhan. "Saya di sini bukan untuk bertamu. Saya di sini untuk memastikan bahwa tanah ini tidak memakan nyawa lagi karena kelalaian manusia."

​Kalimat pertama itu jatuh seperti hantaman palu godam.

Pak Rama tampak menelan ludah dengan susah payah.​Pak Rama menelan ludah dengan susah payah, jakunnya naik-turun menahan kegugupan yang nyata.

Dengan suara yang sedikit bergetar, ia mulai memperkenalkan satu per satu anggota tim Safety B. Pak Eric hanya mengangguk singkat, matanya tetap tajam, tak melewatkan satu detail pun dari orang-orang di depannya.

​"Baik," potong Pak Eric sebelum Pak Rama selesai berbicara panjang lebar. Ia menoleh ke arah Sinta. "Kau... siapa tadi namamu? Sinta? Kepala Keamanan Tim B?"

​Sinta berdiri tegak, meski jantungnya berdegup kencang.

"Siap, Pak. Sinta."

​"Selama saya di sini, kau yang akan jadi pemanduku ke Pit. Saya tidak butuh laporan di atas kertas saja; saya yang akan terjun langsung ke lapangan untuk menilai kinerja kalian," ucap Pak Eric telak.

Ia tidak meminta, ia memberi perintah.

​Pak Eric kemudian memberi isyarat agar Sinta mengikutinya. Sinta tertegun sejenak, melirik timnya yang juga tampak syok, lalu melangkah menuju mobil Jeep putih itu. Saat pintu dibuka, aroma parfum mahal dan udara dingin dari AC yang kuat menyambutnya.

Sinta duduk di kursi penumpang, merasa sangat asing di dalam kemewahan itu. Rompi safety-nya yang pudar karena sapaan matahari setiap hari tampak sangat kusam bersentuhan dengan jok kulit mobil yang masih berbau baru.

Lihat selengkapnya