Sinta dan Pak Eric turun dari Jeep putih yang masih menderu halus. Begitu pintu tertutup, suara raungan mesin berat langsung menyergap indra pendengaran mereka.
Di depan sana, proses evakuasi bangkai unit DT-12 sedang berlangsung. Sebuah Crane raksasa perlahan mengangkat kabin truk yang ringsek, sementara beberapa mekanik dan tim safety lain sibuk mengarahkan.
Namun, perhatian Sinta teralihkan. Matanya yang tajam menangkap sesuatu yang tidak beres di sisi kiri slope (lereng).
Sebuah Bulldozer D375 yang sedang bertugas meratakan jalur evakuasi tampak kehilangan traksi. Rantainya (track) sedikit selip, dan bodi belakangnya mulai miring ke arah parit drainase yang dalam.
Tanpa menunggu perintah Pak Eric, Sinta langsung meraih radio di bahunya.
"Informasi, Dozer 05 di area evakuasi DT-12, copy?" suara Sinta tegas, memecah kebisingan.
"Masuk, Mbak Sinta. Copy," sahut operator di seberang dengan nada sedikit panik.
"Hentikan pergerakan sekarang! Track kiri Anda sudah menggantung di bibir parit. Jangan dipaksa maju atau Anda akan terbalik. Standby di posisi sekarang!"
Sinta menoleh ke arah salah satu kru lapangan.
"Hubungi Tim Recovery dan minta satu unit Winch Truck atau Excavator terdekat untuk back-up penarikan. Kondisi tanah di sana terlalu lembek untuk manuver sendiri!"
Sinta kembali menekan radio.
"Ingat semuanya, keselamatan nomor satu. Jangan karena buru-buru evakuasi, kita justru menambah daftar kecelakaan baru. Medan sangat licin, kurangi manuver tajam."
Setelah memastikan instruksinya dijalankan, Sinta baru sadar bahwa Pak Eric sedang memperhatikannya dalam diam.
Pria itu berdiri dengan tangan bersedekap di dada, menatap Sinta dengan ekspresi yang sulit dibaca.
"Insting yang bagus," gumam Pak Eric singkat. "Kau melihat apa yang orang lain abaikan karena panik."
Pak Eric kemudian melangkah menuju titik tanah yang retak, tempat ban DT-12 selip kemarin. Ia berjongkok, mengambil segenggam material tanah, lalu meremasnya. Sinta mendekat, dan saat itulah ia melihat sesuatu yang janggal.
Di antara tanah merah itu, terdapat campuran kerikil putih yang rapuh—bukan batu pecah (crushed stone) standar untuk pengerasan jalan tambang.
"Ini bukan material untuk hauling road," ucap Pak Eric sambil menatap Sinta tajam.
"Ini material waste murahan yang seharusnya dibuang ke disposal, bukan dipakai untuk pengerasan jalan utama. Sinta, siapa yang menyetujui penggunaan material ini?" Jantung Sinta mencelos.
Ia tahu material itu. Ia pernah memprotesnya dua minggu lalu, namun Pak Rama membentaknya dan bilang bahwa anggaran pengadaan batu pecah sedang dialihkan untuk "keperluan mendesak" lainnya.
Pak Eric melepaskan kerikil putih itu dari genggamannya. Ia berdiri tegak, matanya menatap tajam ke arah Pak Rama yang berdiri beberapa meter di dekat mobil operasionalnya.
Eric tidak mendekat, ia justru meraih radio panggil yang tersemat di pundak rompi krunya.
Di area Pit, radio adalah hukum. Semua orang akan mendengar.
"Radio check, Pak Rama. Copy?" suara Eric terdengar berat dan statis di seluruh channel radio Pit Barat.
Pak Rama yang kaget langsung meraih radionya dengan tangan gemetar.
"Masuk, Pak Eric. Copy."
"Instruksi. Siapkan ruang meeting besar di kantor pusat. Nanti sore, pukul 16.00, saya minta seluruh Kepala Departemen dan tim inti berkumpul. Kita akan melakukan audit investigasi menyeluruh. Area Pit ini bukan arena bermain untuk para tikus yang hobi mengorbankan nyawa orang demi memangkas anggaran. Clear?"
Suasana di area evakuasi mendadak sunyi senyap. Semua operator alat berat yang memegang radio tertegun. Kata-kata "tikus" dan "audit" menggantung di udara seperti awan mendung yang siap menurunkan badai.
"C-clear, Pak. Dimengerti," sahut Pak Rama gagap melalui radio.
Pak Eric kemudian mematikan radionya. Ia menoleh ke arah Sinta yang masih berdiri di sampingnya. Tatapan tajam pria itu sedikit melunak, meski wibawanya tetap mengintimidasi.
"Dan untuk kau, Sinta," ucap Pak Eric. "Kali ini kau lolos. Kompetensimu saat menangani Bulldozer tadi menunjukkan kalau kau memang bekerja dengan mata, bukan cuma dengan rompi. Pertahankan itu."
Sinta hanya bisa mengangguk pelan, tenggorokannya terasa kering.