MESIN BESAR

zanu ariska wakhida ainia
Chapter #10

BAB 10 TENANG SEBELUM BADAI

Suasana di gubuk atas—pos pantau tertinggi yang menghadap langsung ke Pit Barat—terasa berbeda siang itu. Angin bertiup kencang, membawa aroma tanah kering dan suara raungan mesin dari kejauhan. Biasanya, di sinilah tim Safety B melepas penat sambil membuka bekal, namun kehadiran Pak Eric membuat suasana sedikit lebih formal.

​Sinta bangkit dari duduknya di bangku kayu panjang yang sudah kusam. "Teman-teman, saya izin dulu ya. Mau sholat Dzuhur di mushola bawah gubuk," pamitnya.

​Pak Eric yang sedari tadi menatap hamparan tambang di bawah sana menoleh. Ia ikut berdiri, merapikan kemeja birunya yang mulai sedikit berdebu. "Tunggu, Sinta. Saya ikut. Kita sholat berjamaah kalau ada imamnya."

​Keputusan Pak Eric membuat Tian dan Jaka saling lirik. Mereka tidak menyangka orang pusat sekelas Eric mau sholat di mushola kayu kecil yang dibangun swadaya oleh para pekerja tambang di gubuk atas itu.

Sinta mengangguk hormat, lalu memandu Eric menuju bangunan kayu kecil di sisi tebing yang berfungsi sebagai tempat sujud mereka setiap hari.

​Di sana, Pak Eric menggulung lengan kemejanya, membasuh wajahnya dengan air tandon yang dingin, lalu masuk ke dalam mushola beralas sajadah lusuh.

Saat sholat berlangsung, keheningan di puncak bukit itu terasa sangat sakral. Di balik wibawanya yang keras, Pak Eric tampak begitu tunduk saat dahinya menyentuh lantai kayu.

​Setelah selesai, mereka kembali ke area duduk gubuk atas. Tian dan anggota tim lainnya sudah selesai makan, namun suasana masih terasa kaku seperti semen kering. Tian yang biasanya tidak bisa diam, tampak sibuk merapikan rantang makanannya tanpa suara.

​Melihat kecanggungan yang luar biasa itu, Fendi akhirnya memberanikan diri. Ia tahu jika dibiarkan, suasana ini bisa lebih mencekam daripada longsoran tanah.

​"Eh, Mbak Sin..." Tian menoleh ke arah Sinta, mencoba mengabaikan kehadiran Pak Eric di sebelah mereka. "Tadi Juna nelpon ke HP kantor nggak? Katanya dia mau pamer nilai ujian matematikanya ya?" ​Sinta tersenyum lembut, merasa terbantu oleh usaha Tian mencairkan suasana.

"Iya, Ian. Tadi sempat telpon sebentar. Katanya dapat seratus, makanya dia sudah nagih janji mau minta dibelikan robot-robotan kalau aku pulang cuti besok lusa."

​"Wah, pinter itu si Juna. Turunan emaknya yang jago ngitung koordinat pit," timpal Tian mulai cair. Ia lalu melirik Pak Eric dengan sopan.

"Anak Mbak Sinta ini laki-laki, Pak. Baru masuk kelas satu SD.

Dia jagoan kecil yang selalu nunggu ibunya pulang. Mbak Sinta ini pejuang tunggal buat Juna setelah suaminya meninggal di proyek minyak beberapa tahun lalu."

​Pak Eric terdiam sejenak.

Ia meletakkan gelas plastiknya, lalu menatap Sinta dengan pandangan yang lebih dalam—sebuah bentuk rasa hormat kepada seorang janda yang berjuang sendirian di kerasnya dunia tambang.

​"Anak adalah alasan terbaik untuk pulang dengan selamat, Sinta," ucap Pak Eric tiba-tiba. "Jangan sampai pekerjaan kita yang penuh risiko ini membuat mereka kehilangan harapan untuk kedua kalinya.

Itulah gunanya safety yang sebenarnya. Kita di sini untuk memastikan tidak ada lagi anak yang harus kehilangan orang tua mereka di lapangan."

Angin di gubuk atas bertiup makin kencang, membawa sisa-sisa debu dari aktivitas blasting di kejauhan. Sinta menatap Pak Eric dengan binar mata yang lebih mantap. Rasa segan itu masih ada, tapi kini bercampur dengan rasa percaya.

Lihat selengkapnya