MESIN BESAR

zanu ariska wakhida ainia
Chapter #11

BAB 11 BOM YANG TIDAK MELEDAK



Tepat pukul 16.00 WITA.


​Pintu kaca ruang rapat tertutup dengan bunyi klik yang berat. Di dalam, suhu AC diatur pada 16 derajat, membuat udara terasa kering dan dingin menusuk.

Pak Rama duduk di kursi tengah dengan punggung tegak, wajahnya terlihat jauh lebih tenang dibanding tadi pagi—senyum tipis tersungging di bibirnya karena ia tahu jalur Barat sudah "cantik" kembali setelah disapu unit Grader.

​Sinta duduk di pojok, jemarinya meremas tali tas kerja. Ia sudah siap untuk dihujani pertanyaan atau bahkan teriakan.

​Pak Eric membuka map di depannya perlahan. Semua kepala departemen menahan napas. Suasana begitu sunyi sampai suara detak jam dinding terdengar seperti suara palu hakim.

​"Baik, rapat sore ini saya buka," suara Pak Eric tenang, hampir seperti bisikan. ia melirik Pak Rama.

"Pak Rama, saya tadi sudah keliling. Jalur Barat... terlihat sangat rapi ya sore ini. Cepat sekali pengerjaannya."

​Pak Rama berdehem sombong, membenarkan letak dasinya. "Tentu, Pak Eric. Kami selalu mengutamakan maintenance jalur produktif. Mungkin tadi pagi Sinta hanya sedikit salah lihat karena faktor kelelahan lapangan."

​Sinta hampir saja memprotes, namun ia merasakan tatapan Pak Eric yang memberi isyarat agar ia diam.

​"Begitu ya?" Pak Eric menutup mapnya kembali. Ia tidak mengeluarkan foto kerikil putih. Ia tidak membahas soal ban gundul. Ia bahkan tidak memanggil Sinta untuk presentasi.

​"Kalau begitu, rapat sore ini saya cukupkan sampai di sini. Saya hanya ingin memastikan komitmen kalian. Lanjutkan pekerjaan sesuai standar yang baru saja saya lihat di jalur Barat tadi." ​Semua orang di ruangan itu melongo.

Pak Rama tampak kaget, tapi sedetik kemudian wajahnya berubah lega luar biasa. "O-oh, baik Pak Eric. Terima kasih atas kepercayaannya."

​Satu per satu kepala departemen keluar dengan perasaan bingung sekaligus lega.

Pak Rama keluar paling terakhir sambil memberikan lirikkan kemenangan yang merendahkan ke arah Sinta.

​Sinta terpaku di kursinya. Dadanya sesak. Kenapa? Kenapa Pak Eric diam saja? Apakah dia sudah disuap juga?

​Setelah ruangan kosong, hanya tersisa Sinta dan Pak Eric.

Lihat selengkapnya