MESIN BESAR

zanu ariska wakhida ainia
Chapter #12

BAB 12 RITME TERAKHIR

Hari terakhir sebelum cuti biasanya terasa paling lama, dan tambang punya cara sendiri untuk "melepas" pegawainya. Baru saja Sinta hendak merapikan berkas di meja, radio di bahunya berderit nyaring.

​"Safety... Safety... Code Yellow! Code Yellow! Satu unit DT-08 rebah di area Disposal Utara. Tidak ada korban jiwa, posisi unit rebah kiri. Mohon bantuan koordinasi."

​Sinta menghela napas. "Fendi, siapkan mobil. Terakhir sebelum pulang," ucapnya tenang.

​Kejadian itu murni insiden teknis karena tanah yang lembek di area buangan, bukan sabotase. Namun, menangani truk yang terguling (nguling) di bawah terik matahari cukup menguras tenaga. Sinta harus memastikan evakuasi berjalan sesuai SOP, mengambil foto dokumentasi, dan membuat laporan singkat. Drama kecil itu berakhir saat matahari mulai condong ke barat.


​Pukul 19.00 WITA.


​Sinta berada di dalam kamarnya di mess, sebuah ruangan kecil yang sudah ditinggalinya selama bertahun-tahun. Di atas kasur, sebuah koper kain terbuka lebar. Ia memasukkan seragamnya dengan rapi, namun di bagian paling atas, ia meletakkan sebuah kotak mainan robot yang sudah ia beli di koperasi-hadiah untuk Juna.

​Suasana mess malam itu terasa sunyi. Pak Eric tidak terlihat sejak sore tadi. Sinta sempat berpikir untuk berpamitan, tapi ia urungkan. Mungkin lebih baik begini.

​Ponselnya bergetar. Sebuah video call dari Juna.

​"Ibu! Besok Ibu naik mobil travel jam berapa?" wajah mungil itu memenuhi layar, tampak sangat antusias.

​Sinta tersenyum, rasa lelahnya luruh seketika. "Jam enam pagi, Sayang. Doakan ya, biar Ibu selamat sampai rumah. Juna sudah tidur?"

​"Sudah mau tidur, tapi nunggu Ibu telpon. Ibu, jangan lupa robotnya ya!"

​"Iya, sudah Ibu simpan di tas paling atas. Besok kita main ya."

​Setelah menutup telepon, Sinta duduk di tepi kasur. Ia menatap tas kerjanya yang berisi salinan data "tikus-tikus" tambang. Ia sempat ragu, namun akhirnya ia memutuskan untuk membawa tas itu pulang. Ia tidak percaya meninggalkan data itu di kantor saat ia tidak ada.

​Pagi harinya, Pukul 05.45 WITA.

​Sebuah mobil travel L300 putih sudah menunggu di depan gerbang utama. Sinta menaikkan kopernya ke bagasi. Saat ia hendak masuk ke mobil, ia melihat Pak Eric berdiri di balkon kantor pusat, memegang cangkir kopi, menatap ke arah gerbang.

​Pak Eric tidak melambaikan tangan, ia hanya mengangguk kecil-sebuah kode rahasia yang hanya dimengerti mereka berdua.

​Pergilah, Sinta. Nikmati waktumu. Biar aku yang menjaga sarang ini sampai kau kembali.

Lihat selengkapnya