MESIN BESAR

zanu ariska wakhida ainia
Chapter #13

BAB 13 TOPENG YANG LURUH

​Malam di Lamongan jatuh dengan lembut. Tidak ada lampu sorot menara tambang yang menyilaukan, hanya cahaya rembulan yang singgah dengan tenang di atas atap rumah. Di dalam, suasana terasa begitu hangat, kontras dengan dinginnya mess di Borneo yang selalu terasa asing.

​Di atas meja lipat kecil, Juna sedang asyik menggambar. Sinta duduk di sampingnya, memandu tangan mungil itu membentuk garis-garis yang lebih rapi. Juna tidak menggambar robot kali ini; dia menggambar tiga orang yang bergandengan tangan di bawah pohon hijau yang rimbun.

​"Ibu, ini Ibu, ini Juna, terus ini Ayah di surga," tunjuk Juna bangga.

​Sinta tersenyum, meski ada sedikit sesak yang mencubit dadanya. "Bagus sekali, Sayang. Sini, Ibu masak nasi goreng spesial dulu ya buat ksatria kecil Ibu."

​Aroma bawang goreng dan bumbu nasi goreng buatan rumah memenuhi dapur. Bukan makanan katering tambang yang rasanya seragam setiap hari, tapi masakan yang dibuat dengan cinta. Setelah makan malam yang lahap, mereka menghabiskan waktu di depan televisi, menonton kartun kegemaran Juna sambil sesekali tertawa bersama. Di momen ini, Sinta benar-benar melepas topengnya. Tidak ada Kepala HSE, tidak ada rompi pudar, tidak ada tanggung jawab nyawa ribuan orang. Hanya ada seorang Ibu.

​Saat jam menunjukkan pukul sembilan, Juna menarik-narik ujung daster Sinta.

​"Mama... nanti Juna mau bobok sama Mama, ya?" pintanya dengan mata bulat yang mulai mengantuk.

​Sinta menggendong tubuh kecil itu, merasakan beban yang jauh lebih ringan daripada beban di pundaknya saat di lapangan. Ia mengecup kening Juna lama.

​"Iya, Sayang. Besok kan hari Jumat, Mama yang antar Juna ke sekolah. Jadi, sekarang kita bobok, yuk?"

​Malam itu, Sinta tidur dengan Juna di pelukannya.

Pagi itu, udara Lamongan terasa sejuk, membawa aroma tanah basah dan sisa embun dari dedaunan padi. Sinta sudah rapi dengan pakaian santainya, tapi tangannya cekatan seperti sedang melakukan inspeksi harian. Ia memastikan kancing baju Juna rapi dan bekal nasi gorengnya tertutup rapat.

​Hari ini hari Jumat. Juna tidak memakai seragam merah-putih biasa, melainkan seragam olahraga (karena biasanya hari Jumat ada senam pagi atau kerja bakti di sekolah). Warna kaos olahraganya yang sedikit pudar karena sering dicuci justru membuat Juna tampak sangat bersemangat.

​"Ayo, Ma! Nanti ketinggalan senam!" seru Juna sambil menarik tangan ibunya.

​Mereka berangkat menggunakan motor matic tua. Perjalanan dari rumah ke sekolah adalah momen favorit Sinta. Ia memacu motornya perlahan, melintasi jalan semen sempit yang membelah hamparan sawah hijau khas Lamongan. Di sisi kiri dan kanan, padi-padi mulai merunduk, bergoyang pelan ditiup angin pagi. Sinta menghirup dalam-dalam bau sawah itu—bau yang sangat ia rindukan saat hanya bisa menghirup debu batubara.

Lihat selengkapnya