Setelah tumpah ruah rasa sesak di pelukan ibunya, Sinta merasa sedikit lebih ringan. Tangisnya sudah kering, digantikan oleh tekad yang membatu. Namun, sebelum ia kembali menjadi "Singa Betina" di Borneo, ia ingin memberikan penghargaan pada tubuhnya sendiri—tubuh yang sudah ia paksa bekerja keras di bawah terik matahari tambang selama berbulan-bulan.
"Bu, Sinta pamit keluar sebentar ya. Mau ke salon depan pasar, mau pijat sebentar biar badan nggak kaku semua," pamit Sinta sambil mencium tangan ibunya.
"Iya, Nduk. Wis pantes kamu dandan. Kulitmu itu sampai gosong kena panas terus," sahut ibunya tulus.
Sinta mengeluarkan motornya. Saat baru saja hendak memutar gas di depan pagar, seorang wanita tua yang sedang menyapu halaman sebelah rumah menghentikannya. Mbah Surti, tetangga yang sudah mengenal Sinta sejak kecil.
"Loh, Nduk Sinta! Kok wes teko (sudah datang)? Kapan teko-e (datangnya)? Sue ora pethuk (lama tidak bertemu) Mama-e Juna," sapa Mbah Surti dengan logat Lamongan yang kental, matanya menyipit berusaha mengenali wajah Sinta di balik helm.
Sinta tersenyum sopan, ia mematikan mesin motornya sejenak. "Nggih, Mbah. Kula sampun teko winginane (Iya, Mbah. Saya sudah datang kemarin lusa)."
"Oalah, pantesan Juna wingi seneng banget. Ape nndi iku, Nduk? (Mau ke mana itu, Nak?)" tanya Mbah Surti lagi, penuh rasa ingin tahu khas orang desa.
"Ape mlaku-mlaku, ngelek angin, Mbah (Mau jalan-jalan, cari angin, Mbah)," jawab Sinta merendah, enggan menyebut secara spesifik kalau ia ingin ke salon.
Sinta pun berpamitan dan melaju pelan. Tujuannya adalah sebuah salon kecil namun bersih di pinggir kota. Begitu melangkah masuk, aroma terapi melati dan lavender menyambutnya, menggantikan aroma solar dan debu batubara yang selama ini memenuhi paru-parunya.
Ia memilih paket lengkap: creambath, pijat refleksi, hingga manikur. Saat rambutnya dicuci, Sinta memejamkan mata. Sentuhan tangan kapster yang lembut terasa sangat kontras dengan kerasnya pegangan pintu heavy equipment yang biasa ia buka.
Saat sesi manikur, kapster itu sempat tertegun melihat kuku-kuku Sinta. "Kerja di mana, Mbak? Kok kukunya banyak bekas hitam yang susah hilang?" tanya si kapster pelan sambil berusaha membersihkan sisa-sisa debu tambang yang seolah sudah menyatu dengan kulit di pinggiran kuku Sinta.
"Di proyek, Mbak," jawab Sinta singkat.
Sinta menatap bayangannya di cermin. Kulit wajahnya memang lebih gelap dari wanita seusianya di Lamongan, dan ada garis tipis bekas pemakaian kacamata safety di sekitar matanya. Namun, saat ia merasakan pijatan di punggungnya, Sinta merasa sisi kewanitaannya yang sempat ia "tidurkan" demi profesionalisme di site, kini perlahan bangun kembali.
Dia butuh ini. Dia butuh merasa cantik dan terawat, sebelum minggu depan ia harus kembali memakai helm putihnya, menantang maut, dan berhadapan dengan raksasa bernama Pak Rama. Pijatan itu tidak hanya melemaskan ototnya, tapi juga menguatkan mentalnya. Sinta tahu, kecantikan ini akan segera tertutup debu lagi, tapi setidaknya, hatinya kini sudah lebih siap untuk berperang.