MESIN BESAR

zanu ariska wakhida ainia
Chapter #15

BAB 15 BINGKAI TANPA DEBU

Sabtu pagi di Lamongan terasa berbeda. Hari ini bukan tentang mencuci baju atau belanja ke pasar, melainkan tentang mengabadikan sebuah momen yang mungkin tidak akan terulang dalam waktu dekat. Sinta memutuskan untuk membawa ibu dan Junanya ke sebuah studio foto di pusat kota.

​"Kenapa harus foto sekarang, Nduk? Kan kamu masih lama liburnya," tanya ibunya sambil merapikan gamis abu-abunya yang paling bagus.

​Sinta hanya tersenyum tipis sambil memoles sedikit bedak di wajahnya. "Ingin saja, Bu. Buat kenang-kenangan kalau Sinta lagi kangen di Borneo nanti."

​Di studio, suasana riuh rendah. Sinta sudah menyiapkan beberapa set pakaian. Sesi pertama dimulai dengan tema Pakaian Formal. Sinta mengenakan kemeja yang rapi, ibunya tampak anggun dengan jilbab senada, dan Juna terlihat gagah dengan kemeja batik kecilnya. Mereka bertiga berdiri di depan latar belakang putih bersih, tersenyum tulus ke arah kamera.

​Namun, sesi kedua adalah yang paling emosional bagi Sinta.

​"Mas fotografer, sebentar ya," Sinta mengeluarkan sebuah tas besar.

​Ia mengenakan kembali seragam kerja abu-abunya, lengkap dengan rompi safety oranye yang warnanya sudah mulai pudar dan ada bekas goresan permanen di bagian pundak—saksi bisu gesekan alat berat. Ia memegang helm putihnya di pinggang. Juna pun berganti pakaian menjadi seragam SD Merah-Putih yang sangat rapi, lengkap dengan dasinya. Sementara ibunya tetap dengan gamisnya yang bersahaja.

​"Nah, Juna berdiri di depan Mama, ya. Ibunya di samping Sinta," instruksi sang fotografer.

​Juna menatap ibunya dengan kagum. "Mama keren banget kalau pakai baju ini. Kayak pahlawan."

​Sinta menelan ludah, menahan haru. Di balik lensa kamera, ia merasa inilah potret hidupnya yang paling jujur. Seorang ibu yang bekerja sebagai tameng nyawa di tanah rantau, seorang anak yang sedang meniti mimpi di bangku sekolah, dan seorang nenek yang menjadi tiang doa bagi mereka berdua.

​"Satu... dua... tiga... Cekrek!"

​Kilatan lampu studio seolah membekukan waktu. Di foto itu, tidak ada debu batubara, tidak ada ancaman dari Pak Rama, dan tidak ada air mata Juna karena di-bully. Yang ada hanyalah sebuah keluarga kecil yang saling menguatkan.

Lihat selengkapnya