Minggu pagi di Lamongan masih berselimut embun tipis saat Sinta dan Juna menginjakkan kaki di pelataran stasiun tepat pukul 06.00 WIB. Udara segar merasap masuk ke paru-paru, memberikan ketenangan yang kontras dengan hiruk-pikuk Borneo.
"Ma, nanti kita beli oleh-oleh buat Om Joko sama Tante Rita kan?" tanya Juna sambil melompat-lompat kecil di samping Sinta.
"Tentu dong. Ayo, kita ke toko itu sebentar," jawab Sinta sambil menunjuk sebuah toko oleh-oleh yang sudah buka di dekat gerbang stasiun.
Sinta memilih beberapa kotak Wingko Babat khas Lamongan yang masih hangat. Aroma kelapa bakar dan nangka tercium sedap saat kotak-kotak itu dimasukkan ke dalam tas jinjingnya. "Biar mereka tahu rasa asli Lamongan," gumam Sinta dalam hati, membayangkan wajah-wajah Tim B yang pasti akan berebut camilan manis ini.
Tak lama kemudian, kereta Commuter Line yang akan membawa mereka ke Surabaya datang. Perjalanan dari Lamongan menuju Surabaya memakan waktu sekitar 45 hingga 60 menit.
Selama di dalam gerbong, Juna tidak bisa diam. Wajahnya menempel di kaca jendela, matanya berbinar menatap hamparan sawah dan tambak yang berlari cepat di luar sana.
"Ma, lihat! Itu burung bangau ya? Banyak banget!"
"Ma, itu keretanya kok bunyi tut-tut terus? Kita sudah dekat ya?"
Sinta hanya tersenyum sambil mengusap kepala putranya. Celoteh Juna adalah musik paling merdu yang jauh lebih indah daripada deru mesin Wheel Loader.
Sesampainya di Stasiun Surabaya Gubeng, pintu gerbang terbuka dan arus penumpang mulai mengalir keluar. Sinta menggandeng erat tangan Juna, menuntunnya menyusuri lorong stasiun yang panjang dan luas. Namun, langkah Sinta mendadak melambat saat matanya menangkap sesosok pria di antara kerumunan.
Pria itu mengenakan kemeja merah marun yang pas di tubuhnya, terlihat sangat mencolok dan elegan. Di tangan kanannya, ia memegang sebuah koper kecil, sementara tangan kirinya menempelkan ponsel ke telinga.
Pak Eric.