MESIN BESAR

zanu ariska wakhida ainia
Chapter #17

BAB 17 PINTU TOL DI TENGOROKAN JERAPAH

Sinta melangkah mendekat ke arah gadis yang berdiri di samping Joko. Wajah gadis itu tampak teduh, meski terlihat gugup menghadapi keramaian Tim B yang mulutnya tidak bisa direm.

​"Hei, kenalin... aku Sinta," sapa Sinta dengan senyum paling ramah yang ia miliki. "Kepala Safety yang paling sering marahin Joko di site."

​Gadis itu tertawa kecil, rasa gugupnya sedikit mencair. "Arini, Mbak."

​"Ma, ayo masuk! Juna mau lihat gajah! Keburu sore nanti gajahnya pulang kampung!" Juna menarik-narik ujung kaos Sinta, tidak sabar ingin segera membelah antrean tiket yang mulai mengular.

​Setelah tiket di tangan, mereka pun masuk ke dalam area Kebun Binatang Surabaya. Udara panas Surabaya yang lembap seolah tidak terasa karena tertutup rimbunnya pohon-pohon besar di dalam area KBS. Mereka berjalan santai, melewati kandang kambing gunung yang sedang santai mengunyah rumput, hingga deretan burung tropis yang berwarna-warni.

​Langkah mereka terhenti di depan area jerapah. Hewan berleher panjang itu sedang asyik menjulurkan lidahnya yang gelap untuk mengambil pucuk daun dari dahan yang tinggi.

​"Iku loh, mirip kowe, Tian!" Rita berseru sambil menunjuk jerapah yang sedang melenggang tenang. "Sama-sama tinggi, kalau jalan kepalanya duluan yang sampai."

​"Eh, enak ae! Aku dimiripno jerapah," jawab Tian tidak terima sambil merapikan rambutnya. "Jerapah itu ganteng, kalem. Lah aku? Aku kan lebih ke model, Rit. Model alat berat maksudnya."

​Joko yang sedari tadi menggandeng Arini tiba-tiba berhenti. Ia menatap jerapah itu dengan dahi berkerut, seolah-olah sedang menginspeksi kerusakan mesin HD di Pit Barat.

​"Rek, aku kok kepikiran ya," celetuk Joko tiba-tiba. "Itu jerapah kan lehernya dowo (panjang) banget ya? Turu-e (tidurnya) piye? Apa nggak pegel kepalanya digantung terus?"

​Arini menoleh ke arah pacarnya, bingung dengan arah pembicaraan Joko.

​"Sisan (sekalian) kalau maem (makan) itu apa nggak kelamaan nunggu sampai lambung? Perjalanannya aja di tenggorokan kayak lewat pintu tol panjang. Mungkin ada tarifnya juga di dalam sana biar cepat sampai perut," lanjut Joko dengan wajah polos tanpa dosa.

Lihat selengkapnya