Dunia Gani adalah dunia yang teratur. Sebagai Document Controller Assistant, dia mencintai keteraturan. Baginya, setiap map warna-warni di ruang arsip adalah barisan prajurit yang harus berdiri tegak. Meski banyak orang di kantor memandangnya sebelah mata karena kondisi Down Syndrome-nya, Gani tidak peduli. Selama ada kertas untuk disusun dan stempel untuk ditekan, Gani bahagia.
Siang itu, kantor pusat administrasi tambang tampak lengang. Sinta dan Tim B masih berada di Jawa, membuat atmosfer kantor terasa lebih santai—atau lebih tepatnya, longgar.
Gani sedang duduk di lantai ruang arsip yang dingin, memilah dokumen lama yang sudah tidak terpakai untuk dihancurkan di mesin shredder. Tiba-tiba, telinganya yang sensitif mendengar suara langkah kaki yang terburu-buru. Suara pantofel yang beradu keras dengan lantai marmer.
Gani refleks bersembunyi di balik rak besi tinggi nomor 04. Dia tidak suka suara keras.
Seorang pria berkacamata dengan kemeja rapi—Handoko, salah satu akuntan senior bagian keuangan Pit—masuk dengan wajah pucat. Handoko tidak melihat Gani. Tangannya gemetar saat memasukkan kunci cadangan ke lemari besi bertanda "Logistik & Sparepart 2024".
Kriet...
Pintu lemari terbuka. Handoko mengacak-acak tumpukan map dengan kasar. Nafasnya memburu. "Di mana berkas itu... sialan, Pak Rama bilang di sini," gumamnya panik.
Gani mengintip dari celah rak. Dia melihat Handoko menarik sebundel kertas tebal. Saat Handoko berusaha memasukkan bundel itu ke dalam tas kerjanya, sebuah lembaran terlepas. Kertas itu melayang, berputar di udara seperti daun kering, dan mendarat tepat di dekat sepatu bot Gani yang tersembunyi.
Handoko yang ketakutan setengah mati mendengar suara klakson mobil di luar, langsung mengunci kembali lemari itu dan lari keluar ruangan tanpa menoleh lagi.
Ruangan kembali sunyi. Hanya suara mesin AC yang berdengung.
Gani merangkak keluar. Dia memungut lembaran kertas itu. Matanya langsung tertuju pada pojok kanan atas. Ada logo perusahaan—gambar gunung dan matahari yang mengilat terkena lampu TL.