MESIN BESAR

zanu ariska wakhida ainia
Chapter #20

BAB 20 SINYAL BAHAYA DARI BORNEO

Jawa Timur – Hari ke-10 Liburan Sinta.


Sinta sedang duduk di teras rumah orang tuanya, memperhatikan Juna yang sedang asyik bermain mobil-mobilan sendirian. Seharusnya ini adalah minggu tenang sebelum ia kembali ke kerasnya tanah Borneo. Namun, sejak pagi, jantungnya berdegup tidak beraturan. Perasaannya tidak enak, seolah ada kabel yang korslet di dalam kepalanya. Sinta mencoba mengabaikannya dengan meminum teh hangat, tapi tetap saja, instingnya sebagai seorang pemimpin tim HSE lapangan tidak bisa dibohongi. Ada yang salah di sana.


***************************

​Borneo – Koridor Kantor Pusat Tambang.

Di waktu yang sama, Pak Eric baru saja menyelesaikan beberapa urusan administrasi. Sebagai orang dari kantor pusat, posisinya cukup disegani bahkan oleh pimpinan site sekalipun. Ia berjalan santai di koridor yang sepi.

​Tiba-tiba, dari balik pintu ruang arsip, Gani muncul dengan wajah pucat. Matanya yang polos tampak gelisah. Begitu melihat sosok yang ia kenal baik, Gani langsung menghampiri.

​"Pak... Pak Elik..." bisik Gani gemetar.

Pak Eric berhenti, dahinya berkerut melihat asisten arsip itu ketakutan. "Loh, Gani? Kamu kenapa? Seperti habis lihat hantu."

​Gani tidak menjawab. Tangannya yang gemetar meraba saku seragamnya. Ia mengeluarkan sebuah lipatan kertas yang sudah agak lecek. Gani tidak tahu itu kertas apa, ia hanya ingat kertas itu jatuh dari tas Pak Handoko dan ada logo perusahaan yang ia cintai di sana.

​"Pak Elik, Gani nemu... ini penting... logonya..." Gani baru saja hendak menyodorkan kertas itu ke Pak Eric.


​Tap! Tap! Tap!


​Suara sepatu pantofel yang keras bergema. Gani tersentak. Ia hafal suara langkah itu. Itu suara Pak Rama. Gani langsung ketakutan setengah mati. Refleks, ia menarik kembali kertas itu dan menyembunyikannya di balik punggung, lalu merapatkan tubuhnya ke dinding.

​"Selamat siang, Pak Eric! Wah, rajin sekali Bapak jam segini sudah di kantor," sapa Pak Rama yang muncul bersama Handoko. Nada suara Pak Rama terdengar sangat sopan dan dibuat-buat ramahnya, menunjukkan rasa segan karena Pak Eric adalah orang Pusat.

​Pak Eric melihat keringat dingin menetes di pelipis Gani. Sebagai auditor berpengalaman dari pusat, Pak Eric langsung menangkap sinyal bahaya. Ia tahu Gani sedang menyembunyikan sesuatu yang sangat krusial dari Pak Rama.

​"Selamat siang, Pak Rama," jawab Pak Eric dengan nada berwibawa namun tetap tenang, mencoba mengalihkan perhatian Pak Rama dari Gani. "Iya, saya sedang menyinkronkan data pusat sebelum tim lapangan kembali. Oh ya Pak Rama, kebetulan kita bertemu, ada beberapa catatan laporan biaya logistik yang perlu kita klarifikasi di ruangan Anda. Mumpung suasananya tenang."

​Pak Rama tampak sedikit tegang, tapi tetap memaksakan senyum. "Tentu, Pak Eric. Mari, silakan ke ruangan saya."

Pak Rama menoleh sekilas ke Gani yang menunduk takut. "Gani, lanjut kerja. Jangan sampai mengganggu tamu dari Pusat."

​Setelah mereka pergi, Gani buru-buru lari ke lokernya. Kertas itu harus tetap aman sampai Mbak Sinta datang.

Lihat selengkapnya