MESIN BESAR

zanu ariska wakhida ainia
Chapter #21

BAB 21 PANGGILAN TUGAS


Layar ponsel masih menyala, tapi suasana di empat tempat berbeda itu langsung berubah drastis.

​POV Andi

Andi tidak banyak bicara. Ia langsung menyambar botol minumnya, meneguknya hingga tandas, lalu berjalan dengan langkah lebar meninggalkan area treadmill. Tatapan matanya yang tadi santai saat menghitung set beban, kini berubah menjadi tajam dan dingin. Otot-otot lengannya masih tegang karena latihan, tapi pikirannya sudah terbang ke Borneo, membayangkan mesin-mesin raksasa yang sedang bermasalah. Ia bukan lagi pria yang sedang olahraga, ia adalah pengawas lapangan yang siap tempur.

​POV Rita

Di kamar hotel, Rita langsung terduduk tegak dari posisi rebahannya. Gerakan mendadaknya membuat masker wajah yang sudah mengering itu retak seribu, serpihannya jatuh ke sprei. Tanpa memedulikan wajahnya yang masih cemong, ia menutup paksa laptop yang sedang memutar adegan romantis drakor, lalu menarik koper besarnya dari atas lemari. "Maaf ya Oppa, urusan nyawa lebih penting daripada urusan cinta," gumamnya sambil mulai melempar baju-baju ke dalam koper.

​POV Joko

Joko seketika berdiri tegak dari kursi kafe, membuat Arini—pacarnya—tersentak kaget hingga hampir menjatuhkan sendok es krimnya.

"Arini, maaf banget. Ada keadaan darurat di kantor. Aku harus balik ke mess sekarang. Ayo, aku antar kamu pulang ya," ucap Joko cepat. Tidak ada lagi candaan "nikmati masa muda". Wajah Joko yang biasanya penuh tawa kini tampak kaku dan serius. Arini hanya bisa mengangguk paham, ia tahu kalau Joko sudah seperti ini, pekerjaannya tidak bisa diganggu gugat.

​POV Tian

Di angkringan, Tian langsung berdiri dan menyalami teman-teman kuliahnya satu per satu dengan cepat.

"Sori, Rek! Tugas mendadak, panggilannya barusan masuk. Aku duluan ya!" Tian tidak menunggu jawaban teman-temannya yang masih melongo. Ia segera memakai jaketnya dan menghilang di tengah keramaian kota, otaknya sudah mulai menyusun strategi laporan audit yang mungkin diminta Sinta besok pagi.

​POV Sinta

Setelah menutup panggilan video itu, Sinta berjalan pelan menuju kamar Juna. Di bawah temaram lampu tidur, ia memandangi wajah anaknya yang sedang terlelap dengan sangat damai. Sinta duduk di tepi kasur, mengelus lembut rambut Juna dengan perasaan campur aduk.

​"Juna... maafin Ibu ya, Nak," bisiknya pelan. "Liburan kita harus dipercepat. Ibu harus balik malam ini juga, ada keadaan darurat di sana. Kamu di sini dulu sama Nenek ya."

​Ada rasa sesak karena harus meninggalkan Juna lebih awal, tapi tanggung jawab sebagai pemimpin tim di Borneo memanggilnya lebih kuat. Sinta mencium kening Juna sekali lagi sebelum beranjak mengambil tas ranselnya.



Lihat selengkapnya