Langkah kaki Tim B tidak langsung menuju gedung utama. Meskipun jantung mereka berdegup kencang karena urusan Gani, Sinta tetaplah Sinta—pemimpin yang tidak akan pernah melanggar prosedur, sekecil apa pun itu.
"Kita ke Klinik Site dulu. Prosedur Fit to Work. Saya tidak mau Pak Rama punya celah untuk memulangkan kita hanya karena alasan kesehatan yang belum tervalidasi," tegas Sinta saat mereka turun dari mobil.
Di klinik, suasana terasa mekanis. Tensimeter dipasang, suhu tubuh diukur, dan kuesioner kesehatan diisi dengan cepat. Suster di klinik sempat heran melihat Tim B yang datang dengan koper-koper besar dan wajah yang sangat tegang.
"Tensi Ibu Sinta agak tinggi hari ini," ujar suster itu pelan.
"Wajar, Sus. Saya baru saja mendarat dan banyak pekerjaan," jawab Sinta pendek. Ia tidak mungkin bilang kalau tensinya naik karena menahan amarah dan kekhawatiran pada Juna dan Gani.
Setelah mengantongi surat kuning tanda Fit to Work, mereka bergerak menuju loker tim. Di sanalah transformasi itu terjadi. Pakaian santai khas Jawa—kaos polo, jeans, dan daster yang tadi sempat dipakai Sinta—ditinggalkan.
Satu per satu mereka mengenakan "baju perang" mereka: seragam wearpack dengan reflektor yang menyala, sepatu safety yang berat, dan helm proyek yang kokoh. Rita mengikat rambutnya tinggi-tinggi dengan rapi, Andi mengencangkan tali sepatunya dengan tarikan kuat, sementara Joko dan Tian memastikan radio komunikasi mereka aktif.
Sinta berdiri di depan cermin, mengancingkan kerah seragamnya hingga rapat. Ia bukan lagi Sinta yang lemah lembut mengelus rambut Juna di Lamongan. Kini, yang berdiri di sana adalah Chief HSE yang siap mengeksekusi kebenaran.
"Sudah siap?" tanya Sinta dingin.
"Siap, Mbak!" jawab mereka serempak.
Mereka berjalan membelah area kantor dengan langkah yang menimbulkan bunyi dentam sepatu safety di atas lantai besi. Dari kejauhan, di ujung koridor dekat ruang audit, sosok Pak Eric sudah berdiri menunggu. Wajahnya yang biasanya tenang kini tampak sangat waspada, matanya berkali-kali melirik ke arah ruangan Pak Rama yang tertutup rapat.
Begitu melihat Sinta dan pasukannya datang dengan APD lengkap, Pak Eric mengangguk kecil—sebuah gestur respek dan sinyal bahwa "medan perang" sudah disiapkan.