Sinta terpaku sejenak. Matanya melirik ke arah ruang arsip tempat Gani bersembunyi, lalu beralih ke wajah Pak Rama yang mulai pucat. Ini situasi yang sangat sulit. Sebagai Kepala Tim HSE, nyawa pekerja di lapangan adalah tanggung jawabnya, tapi keselamatan Gani sebagai saksi kunci adalah prioritas personalnya.
"Rita!" Sinta menarik Rita sedikit menjauh, suaranya rendah namun penuh penekanan. "Kamu tetap di sini. Sebagai HSE Admin, kamu harus standby untuk koordinasi data korban dan komunikasi ke pusat. Jangan tinggalkan area ini."
Rita sempat bingung, namun ia melihat kode dari tatapan Sinta yang melirik ke arah lorong ruang arsip. Sinta sedang memberinya tugas paling berbahaya: menjaga Gani dari jangkauan Handoko tanpa terlihat mencolok.
"Dengar," bisik Sinta sekali lagi, sangat tipis hingga hanya Rita yang mendengar. "Pastikan 'aset' kita di sana tidak bergeser sedikit pun. Jaga dia seolah kamu menjaga nyawamu sendiri. Mengerti?"
Rita menelan ludah, lalu mengangguk mantap. "Siap, Mbak. Saya paham."
Sinta, Andi, Joko, dan Eric segera berlari menuju mobil operasional. Pak Rama mengekor di belakang dengan langkah tergesa, wajahnya berkali-kali menyeka keringat dingin. Ia terpaksa ikut karena aturan perusahaan mewajibkan pimpinan tertinggi site hadir di lokasi kecelakaan besar.
Begitu pintu mobil ditutup, hujan deras langsung menghantam atap kabin dengan suara memekakkan telinga. Mobil melaju kencang, membelah jalanan tambang yang mulai berubah menjadi sungai lumpur cokelat pekat.
Sinta duduk di kursi depan, tangannya mengepal sangat kuat hingga buku-bukunya memutih. Setiap guncangan mobil di atas jalan becek itu memicu kilatan memori yang berusaha ia kubur: suara sirine, bau tanah basah, dan bayangan kecelakaan suaminya dulu. Tubuhnya gemetar, namun ia memaksakan diri untuk tetap tegak.
"Mbak Sinta... tarik napas," bisik Andi dari belakang, menyadari Sinta sedang berjuang melawan traumanya.
Sinta hanya mengangguk kecil, matanya terus menatap tajam ke depan. Di sebelahnya, Pak Rama tampak gelisah, terus-menerus mencoba menelepon seseorang namun sinyal di area tambang sedang memburuk akibat badai.
Begitu sampai di KM 12, pemandangan itu benar-benar mengerikan. Lereng sisi barat telah runtuh total, menimbun jalur utama. Dua unit Dump Truck raksasa tampak seperti mainan yang tergilas lumpur.
"Hati-hati! Waspada longsor susulan!" teriak Joko saat mereka turun dari mobil. Sepatu safety mereka langsung tenggelam dalam lumpur setinggi betis.