MESIN BESAR

zanu ariska wakhida ainia
Chapter #24

BAB 24 PERTARUHAN DUA NYAWA

Hujan belum menunjukkan tanda akan reda, justru semakin menggila hingga jarak pandang di KM 12 hanya tersisa beberapa meter, tertutup tirai air yang pekat. Sinta berdiri di tengah lumpur yang mulai mencapai lutut, mengabaikan rasa dingin yang menusuk tulang hingga ke sumsum. Di depannya, lereng yang biasanya kokoh kini tampak seperti raksasa yang sedang memuntahkan isinya.

​Sinta melihat Umar—HSE Tim C—yang tampak linglung dan gemetar di pinggir area runtuhan. Tanpa ragu, Sinta mengambil alih komando. Suaranya membelah gemuruh hujan.

​"Andi, Joko, Tian! Gerak sekarang! Jangan tunggu perintah kedua!" teriak Sinta pada timnya.

​"Joko, hubungi tim Geoteknik sekarang! Suruh mereka pasang Inclinometer tambahan. Aku butuh data pergerakan tanah setiap lima menit. Aku tidak mau kita mati konyol kena longsor susulan saat sedang menggali! Andi, Tian, instruksikan lewat radio di semua kanal: HENTIKAN SEMUA UNIT! Matikan mesin dalam radius 500 meter. Getaran mesin sekecil apa pun bisa jadi pemicu tanah ini runtuh lagi!"

​"Semua pekerja yang tidak memegang alat rescue, segera naik ke High Ground! Area aman di KM 11! Sekarang!" perintah Sinta lagi dengan otoritas yang tak terbantahkan.

​Andi dan Tian segera berpencar, suara peluit mereka melengking di antara deru angin. Sinta menoleh sekilas ke arah Pak Rama yang berdiri jauh di belakang, berlindung di bawah payung hitam besar. Sinta tahu, keselamatan dua nyawa di bawah sana kini ada di pundaknya, sementara Pak Rama mungkin hanya sedang menghitung risiko jabatan yang bisa ia selamatkan.


​Sementara itu, di Kantor Pusat...


Suasana kantor pusat sangat sepi karena banyak orang fokus pada berita kecelakaan. Gani, sang asisten arsip, melangkah keluar dari ruang kerjanya dengan gerakan ragu-ragu. Wajahnya yang polos tampak sangat gelisah. Sejak tadi, ia terus meraba saku celananya, memastikan sebuah kertas tebal yang ia lipat kecil-kecil masih tersimpan aman di sana.

​Kertas itu membuat Gani bingung. Di bagian atasnya ada logo Gunung dan Matahari—logo perusahaan tambang tempatnya bekerja sebagai asisten arsip. Tapi di bawahnya, ada coretan angka-angka merah yang besar dan kasar. Ingatan visual Gani yang tajam berbisik bahwa dokumen ini "salah". Sebagai orang yang setiap hari merapikan arsip, dia tahu dokumen resmi tidak seperti ini.


Lihat selengkapnya