MESIN BESAR

zanu ariska wakhida ainia
Chapter #25

BAB 25 BERTARUH NYAWA DI LUMPUR MERAH


Hujan belum mereda, justru semakin menggila hingga suara gemuruh air di atas helm safety terdengar seperti dentuman drum yang tak kunjung usai. Sinta berlutut di atas lumpur yang licin, jemarinya yang terbalut sarung tangan karet tebal ikut menggali tanah merah yang menimbun bagian atas kabin truk. Air hujan bercampur keringat mengalir masuk ke mata, perih, namun adrenalinnya memompa jantung lebih cepat dari rasa lelahnya.

​"Gali di sisi kiri! Kabinnya miring ke arah sana!" teriak Sinta, suaranya parau beradu dengan deru angin.

​Di belakangnya, Eric berdiri dengan tubuh gemetar, bukan karena dingin, melainkan karena kengerian yang sedang ia laporkan. Ia memegang ponsel satelit dengan tangan yang licin oleh lumpur.

​"Halo? Pusat? Ini Eric dari audit. Terjadi insiden fatal di Borneo. KM 12 runtuh. Dua unit tertimbun. Kondisi kritis, kami sedang melakukan evakuasi darurat," Eric melaporkan dengan suara yang hampir pecah.

​Mendengar Eric menghubungi kantor pusat, Pak Rama yang berdiri tak jauh dari sana tampak makin ketir-ketir. Wajahnya pucat pasi, matanya liar menatap sekitar. Ia tahu, sekali orang pusat mendengar kata 'Insiden Fatal', maka audit menyeluruh akan turun. Rahasia 'Angka Merah' yang ia sembunyikan selama ini berada di ujung tanduk.

​"Mbak Sinta! Lihat! Ini pintunya!" teriak Andi.

​Setelah perjuangan melelahkan selama hampir satu jam, ujung pintu kabin yang ringsek mulai terlihat. Sinta segera merayap masuk ke celah sempit yang baru saja dibuka. Di dalam sana, di bawah tumpukan besi yang tertekuk, ia melihat sosok manusia yang sudah tak berdaya.

​"Satu korban ditemukan!" teriak Sinta ke arah luar.

​Dengan hati-hati, tim menarik tubuh operator malang itu keluar dari reruntuhan. Kondisinya mengenaskan; ia pingsan dengan napas yang pendek-pendek. Tulang kering kaki kanannya tampak menekuk pada sudut yang tidak wajar-patah tulang terbuka. Darah segar bercampur dengan air hujan di atas tanah.

​Sinta tidak menunggu lama. Sebagai Chief HSE, ia sudah dibekali sertifikasi medis darurat untuk situasi tambang. Ia segera membuka tas P3K yang selalu tergantung di punggungnya.

​"Joko, pegang kepalanya! Pertahankan posisi leher!" perintah Sinta dengan suara yang mendadak sangat tenang. Inilah sisi lain dari Sinta; di tengah kekacauan, logikanya justru bekerja paling tajam.

​Ia mengambil splint (bidai) portable dan kasa steril. Dengan gerakan yang terlatih, ia mulai membersihkan area luka dan memasang penyangga pada kaki korban agar patah tulangnya tidak semakin parah saat dievakuasi nanti. Tangannya stabil, tidak gemetar sedikit pun, meskipun hatinya perih melihat penderitaan pekerjanya.

Lihat selengkapnya