MESIN BESAR

zanu ariska wakhida ainia
Chapter #26

BAB 26 NAPAS DI UJUNG TANAH


Sinta merasa paru-parunya mulai terbakar. Oksigen di sekitar area longsor terasa tipis, terhimpit oleh aroma tanah basah dan solar yang menyengat. Setelah berhasil mengamankan korban pertama yang patah tulang, fokus Sinta kini beralih ke unit kedua yang terkubur lebih dalam.

​"Andi! Bawa alat deteksi suara ke sini! Cepat!" teriak Sinta.

​Andi berlari sambil membawa alat sensor getaran. Sinta menempelkan sensor itu ke lempengan besi yang menyembul dari gundukan tanah. Ia memejamkan mata, mencoba meredam suara gemuruh hujan di kepalanya sendiri.

​Tuk. Tuk.

​Suara ketukan itu sangat lemah, tapi bagi Sinta, itu terdengar seperti ledakan harapan. "Masih ada nafas di bawah sini! Gali! Tapi jangan pakai cangkul di titik ini, pakai tangan! Kita tidak tahu seberapa dekat jarak kabin dengan permukaan!"

​Sinta ikut terjun. Kuku-kukunya mulai menghitam, telapak tangannya lecet karena bergesekan dengan kerikil tajam, tapi dia tidak peduli. Di otaknya hanya ada satu pikiran: Tidak boleh ada lagi yang tertinggal di bawah tanah seperti Juna.

​Di sisi lain area, Pak Rama tampak sedang berdebat sengit dengan Eric. Eric terlihat tidak mau berkompromi lagi.

​"Saya sudah lapor pusat, Pak Rama! Investigasi independen akan tiba besok pagi. Bapak tidak bisa lagi menutupi ini sebagai faktor cuaca!" Eric berteriak, menunjukkan integritasnya yang akhirnya muncul di saat kritis.

​Wajah Pak Rama menjadi gelap. Ia melirik ke arah Sinta yang sedang berlumuran lumpur. "Investigasi tidak akan menemukan apa-apa jika laporannya disinkronkan, Eric. Jangan jadi pahlawan di saat posisimu sendiri belum aman."

​Kembali ke titik evakuasi, tanah tiba-tiba bergetar.

​"Mbak Sinta! Awas! Sisi atas retak lagi!" teriak Joko dari ketinggian.

​Sinta mendongak. Lereng di atas mereka mulai meluncur turun secara perlahan. Ini adalah longsor susulan. Semua orang berlari menjauh, tapi Sinta melihat sebuah tangan terjulur dari celah kecil kabin yang baru saja ia gali.

​"Mbak, lari!" teriak Andi sambil mencoba menarik seragam Sinta.

​"Bentar! Sedikit lagi!" Sinta menepis tangan Andi. Dengan kekuatan yang entah datang dari mana, ia menarik tangan operator yang terjepit itu.

​BRAKK!

​Tanah runtuh menimbun bagian belakang truk tepat saat Sinta menarik tubuh operator itu keluar. Mereka berdua terguling di lumpur, terhindar hanya beberapa senti dari maut yang nyaris mengubur mereka hidup-hidup.

​Sinta terengah-engah, wajahnya penuh lumpur merah, menatap langit yang masih menumpahkan hujan. Ia berhasil. Dua nyawa selamat. Namun, saat ia mencoba berdiri, ia melihat Pak Rama menatapnya dari kejauhan dengan pandangan yang mengerikan—sebuah tatapan dari orang yang sudah tidak punya apa-apa lagi untuk rugi.

Lihat selengkapnya