Secara perlahan, Sinta membuka matanya. Indra penciumannya langsung menangkap aroma obat-obatan yang tajam, sebuah kontras yang sangat asing dibandingkan bau debu solar dan deru mesin besar tambang yang biasa ia hirup setiap hari.
"Mba Sinta bangun! M-Mbak Lita...? Matanya kebuka!" seru Gani dengan nada gembira yang polos.
Gani, karyawan bagian arsip yang memiliki down syndrome itu, adalah orang pertama yang menyadari kesadaran Sinta. Suaranya yang bersemangat membuat Rita, yang tadinya terpaku di ambang pintu, segera berlari mendekat ke arah ranjang.
"Mbak Sinta? Ada yang sakit? Perlu dokter? Inget Rita yang comel ini, kan? Aduh, jangan diam saja, Mbak! Bikin parno nih!" Berondongan pertanyaan langsung dilontarkan oleh Rita, anggota Tim B yang berada di bawah kepemimpinan Sinta. Wajahnya nampak sangat cemas meski tetap dengan gaya bicaranya yang tak bisa diam.
Sinta tersenyum tipis. Mendengar pertanyaan beruntun dari anak buahnya itu seolah menjadi obat tersendiri. "Aku nggak apa-apa, Rit," jawab Sinta parau.
Namun, insting pemimpinnya tak bisa istirahat begitu saja. Mata Sinta langsung menyisir setiap jengkal ruang poliklinik yang sempit itu, mencari sosok-sosok lain yang seharusnya ada di sana. "Yang lain gimana? Aman, kan?" tanya Sinta. Ia mencari wajah Joko, Tian, Andi, dan terutama, Pak Eric.
"Semua aman, Mbak. Enggak ada korban jiwa," jawab Rita menenangkan. "Sekarang Joko, Tian, dan Andi lagi pencar. Andi lagi mantau Flash Report kejadian kemarin. Tim A yang harusnya bertanggung jawab atas keselamatan pekerja saat peristiwa itu juga lagi sibuk. Tian fokus mantau pekerja yang luka-luka karena sempat tertimbun, dibantu sama Andi juga. Kalau Pak Eric, kayaknya tadi lagi teleponan di luar, mukanya serius banget, sepertinya orang pusat, Mbak."
Mendengar semua timnya selamat, Sinta menghela napas lega. Beban berat di dadanya seolah terangkat sedikit. Namun, sedetik kemudian pikirannya langsung melayang pada satu hal: bukti angka merah. Sebuah data krusial yang diperkirakan Pak Eric tersimpan aman di tangan Gani.
Sinta menunduk, menatap Gani yang sedang sibuk memainkan selang infusnya dengan raut wajah polos tanpa beban. Gani terlihat sangat tenang, jauh dari kesan mengancam. Siapa yang akan mengira bahwa di balik kepolosan seorang karyawan arsip dengan down syndrome ini, tersimpan bukti yang bisa membuat Pak Rama dan Handoko gemetar ketakutan?