MESIN BESAR

zanu ariska wakhida ainia
Chapter #28

BAB 28 BOM DIBALIK TIRAI KLINIK


Aroma antiseptik yang tajam menusuk indra penciuman Sinta, mencoba mengusir sisa bau lumpur dan solar yang masih menempel di kulitnya. Di dalam ruang medis KM 11 yang sempit, Sinta duduk di tepi ranjang periksa dengan tangan yang masih bergetar. Selembar kertas kusam pemberian Gani kini terbuka di hadapannya, terasa lebih panas daripada bara api.

​Pupil mata Sinta mengecil seketika. Di sana, tertulis dengan spidol merah yang mencolok: angka-angka anggaran perawatan unit yang dipangkas gila-gilaan. Dan di pojok bawah, guratan tanda tangan itu tak mungkin salah. Itu tanda tangan Pak Rama, sang Kepala Tambang, bersanding dengan paraf Handoko selaku admin keuangan pit.

​"Ya Tuhan..." desis Sinta. Ia baru saja menyadari bahwa kecelakaan Pak Herman dan longsor yang baru saja ia hadapi adalah "Tumbal" yang disahkan lewat tanda tangan ini.

​Sinta segera menunjukkan kertas itu kepada Pak Eric yang berdiri waspada di dekat jendela. Eric menerima kertas itu, menelitinya dengan mata elang yang dingin. Suasana di dalam ruang medis mendadak mencekam, seolah kertas itu adalah bom waktu yang baru saja diaktifkan.

​"Gotcha," gumam Eric rendah. Kilat amarah terpancar dari balik kacamatanya. "Saya sudah curiga ada yang tidak beres dengan laporan keuangan di Borneo, dan sekarang saya tahu kenapa Rama dan Handoko nekat bermain panas seperti ini."

​Eric menghela napas panjang, menatap Sinta yang masih pucat pasi. "Sinta, hasil penyelidikan tim saya di Jakarta sudah hampir lengkap. Tapi saya baru benar-benar paham motifnya sekarang. Rama... dia melakukan ini untuk anaknya. Ayu sedang Leukemia stadium lanjut. Biaya pengobatannya membengkak setiap hari, dan dia terjepit."

​Jantung Sinta seakan berhenti mendengar kata "Leukemia". Sebagai seorang ibu, ada rasa pilu yang menyengat dadanya. Namun, Eric belum selesai.

​"Dan Handoko..." Eric menunjuk paraf di sebelah tanda tangan Pak Rama. "Dia mungkin yang paling menderita sekaligus yang paling pengecut di sini. Handoko melakukan ini karena tekanan keluarganya sendiri. Istri dan anak-anaknya menuntut gaya hidup yang melangit di Surabaya. Dia dipaksa mencukupi gengsi keluarga yang tidak ada habisnya sampai dia merasa tidak punya pilihan selain ikut mengeruk uang haram ini."

​Sinta mengepalkan tangannya hingga buku-bukunya memutih. "Jadi... karena satu anak yang sakit dan satu keluarga yang gila gengsi, puluhan nyawa pekerja di lapangan ini dijadikan taruhan setiap hari?"

Lihat selengkapnya