Hening.
Suara derap langkah Pak Eric yang tegas perlahan menghilang di ujung lorong klinik, meninggalkan Sinta dalam kesendirian yang menyesakkan. Kontras yang luar biasa terasa malam ini. Jika tadi pagi alam mengamuk dengan gemuruh petir dan lumpur yang menelan segalanya, malam ini rembulan Borneo muncul dengan tenangnya, membiarkan cahayanya yang pucat masuk melalui celah ventilasi.
Ruangan itu terasa sesak oleh aroma obat, dingin oleh embusan angin malam, dan hampa karena sebuah kenyataan baru saja meledak di hadapan Sinta. Ia merebahkan tubuhnya yang remuk ke atas ranjang klinik, matanya menatap langit-langit yang kusam.
Pikirannya melayang kembali ke kejadian tiga jam yang lalu...
Flashback On
"Sinta, cukup untuk hari ini," suara Pak Eric terdengar rendah namun penuh wibawa. Ia berdiri di ambang pintu klinik, memegang kertas merah yang kini sudah lesu itu dengan sangat hati-hati.
"Kau sudah melakukan lebih dari tugasmu. Sekarang, tidur dan istirahatlah. Besok pagi, segalanya akan berubah. Orang-orang penting dari Jakarta akan mendarat di sini bersama petugas berwajib. Kita akan melakukan sidak resmi terhadap Rama dan Handoko. Dan kau, Gani, serta saksi lainnya akan dimintai keterangan resmi. Pastikan kondisimu pulih saat fajar menyingsing nanti."
Eric menatap Sinta sejenak, ada secercah rasa hormat di matanya sebelum ia berbalik dan menghilang di kegelapan koridor menuju ruang isolasi.
Flashback Off
Sinta memiringkan tubuhnya, memeluk dirinya sendiri yang masih terbungkus wearpack kotor. Tidur adalah hal yang mustahil malam ini. Setiap kali ia memejamkan mata, wajah Pak Rama yang agresif dan wajah Handoko yang ketakutan terus terbayang.