Debu yang biasanya beterbangan liar di area office site seolah ikut membeku saat empat personel kepolisian melangkah tegap di atas kerikil tajam. Pak Eric menyambut mereka dengan jabatan tangan yang kaku namun penuh penekanan. Tidak ada basa-basi. Di belakangnya, Sinta berdiri melindungi Gani, sementara para staf administrasi seperti Rita dan kawan-kawan mulai berbisik di balik tirai jendela.
"Pak Eric," salah satu petugas dengan tanda pangkat di pundaknya berucap tegas. "Kami sudah menerima laporan awal dan bukti digital yang Anda kirimkan semalam. Kami di sini untuk menjemput Saudara Rama dan Saudara Handoko untuk pemeriksaan lebih lanjut."
Sinta merasakan jemari Gani yang dingin menggenggam ujung wearpack-nya.
"Mbak Sinta," bisik Gani lagi, matanya yang bulat berbinar menatap seragam cokelat para petugas. "Superman-nya bawa borgol ya? Kayak yang di TV, buat tangkap monster?"
Sinta menelan ludah, tenggorokannya terasa tersumbat. "Iya, Gan. Mereka mau bawa orang-orang yang bikin 'mesin' kita rusak."
Pintu ruang isolasi terbuka dengan derit yang memilukan. Pak Rama keluar lebih dulu. Wajahnya yang biasanya angkuh kini tampak seperti abu; pucat dan tak bernyawa. Di belakangnya, Handoko berjalan tertatih, matanya sembap, menatap lantai seolah-olah semen di bawah kakinya adalah jurang yang dalam.
Langkah mereka terhenti tepat di depan Eric, Sinta, dan Gani. Suasana seketika menjadi sunyi senyap, hanya suara mesin genset jauh di ujung site yang masih menderu, seolah menjadi saksi bisu runtuhnya kekuasaan mereka.
Gani tiba-tiba melepaskan pegangan tangan Sinta. Ia melangkah maju satu tindak, membuat para petugas dan Pak Eric tertegun. Gani merogoh saku kemeja kerjanya yang kedodoran, lalu mengeluarkan sebuah permen cokelat yang sudah agak meleleh bungkusnya.
Ia menyodorkannya ke arah Pak Rama.
"Pak Rama... jangan sedih," suara Gani terdengar jernih, tanpa benci, tanpa dendam. "Gani tahu Pak Rama capek hitung angka merah terus di kertas. Ini cokelat buat Pak Rama, biar nggak nangis lagi."
Deg. Sinta menutup mulutnya dengan tangan. Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya tumpah juga. Kalimat polos Gani justru lebih tajam daripada tuduhan hukum mana pun. Gani, dengan keterbatasannya, justru menjadi satu-satunya orang yang melihat "kelelahan" di balik kejahatan Pak Rama.
Pak Rama mematung. Tangannya yang gemetar perlahan menerima permen dari Gani. Pria itu tertunduk, bahunya terguncang hebat. Tangisnya pecah di depan seluruh bawahannya.