MESIN BESAR

zanu ariska wakhida ainia
Chapter #32

BAB 32 LUKA DI BALIK SERAGAM


Tiga hari berlalu sejak hiruk-pikuk pengadilan. Matahari Borneo siang ini terasa lebih menyengat, seolah ingin memberikan salam perpisahan yang tak terlupakan bagi Sinta. Ini adalah hari terakhirnya mengenakan rompi HSE di site ini sebelum pindah ke Surabaya.

​Sinta mengangkat radio panggilnya, suaranya bergema di antara deru mesin yang mulai melambat karena jam istirahat. "Kepada Tim B, sudah jam makan siang. Segera naik ke pondok atas. Pastikan semua alat berat dalam posisi aman. Ganti."

​"Diterima, Mbak Sinta. Meluncur!" suara Andi menyahut dari balik HT.

​Tak butuh waktu lama, para personel Tim B sudah berkumpul di pondok kayu tempat mereka biasa melepas penat. Aroma nasi bungkus dan keringat bercampur jadi satu. Pak Eric sendiri sudah berangkat kemarin. Tugas investigasinya sudah selesai; ia harus kembali ke Kantor Pusat Jakarta untuk melaporkan hasil audit berdarah ini.

​Di tengah suapan nasi, Andi mulai melancarkan aksi "intel"-nya. Ia mendekat ke arah Rita, suaranya dipelankan tapi tetap terdengar oleh yang lain.

​"Eh, kalian tahu nggak kenapa Pak Eric itu auranya dingin banget kayak es kutub? Padahal dia orang besar dari Jakarta, tapi mau-mauannya dikirim ke pedalaman Borneo cuma buat investigasi korupsi begini," pancing Andi.

​"Ya karena profesional, Di. Namanya juga tugas dari Pak Kareem," sahut Rita cuek.

​"Bukan cuma itu. Gue denger dari staf administrasi pusat pas kemarin mereka beresin berkas Pak Eric," Andi menghela napas panjang, wajahnya mendadak serius. "Pak Eric itu duda. Istrinya meninggal dua tahun lalu pas melahirkan anak pertama mereka. Tragisnya, anaknya juga nggak selamat. Dia nggak punya siapa-siapa lagi di Jakarta."

​Sinta yang baru saja mau menyuap nasi, mendadak terhenti. Tangannya menggantung di udara. Dadanya terasa sesak mendengar fakta itu. Ternyata, di balik ketegasan dan mata tajam Pak Eric selama ini, ada duka yang sengaja ia kubur dalam-dalam.

​"Tau dari mana kamu, Di? Jangan sembarang gosip!" tegur Joko, meski raut wajahnya langsung berubah layu.

Lihat selengkapnya