MESIN BESAR

zanu ariska wakhida ainia
Chapter #33

BAB 33 MESIN TERBESAR ADALAH PULANG


Pagi itu, udara Borneo terasa lebih lembap dari biasanya. Sinta melangkah keluar dari pintu mess, menyeret koper yang roda-rodanya berderit pelan di atas tanah merah yang mulai basah oleh embun. Di depan area parkir bus tambang, Tim B dan Gani sudah berdiri mematung.

​"Mbak Sinta..." suara Gani memecah keheningan. Ia melangkah maju, menyerahkan topi safety bekas yang sudah dibersihkan. Sinta menerimanya dengan mata berkaca-kaca.

​Namun, Gani tidak langsung mundur. Ia merogoh sebuah tas kertas putih bersih dari balik punggungnya. "Mbak Sinta... ini ada titipan dari Pak Eric sebelum dia balik ke Jakarta kemarin. Katanya, buat Mbak Sinta sama Juna."

​Sinta mengerjap, sedikit terkejut. Ia menerima tas kertas itu dan membukanya perlahan. Di dalamnya, terdapat dua potong baju kaos berkualitas tinggi berwarna putih bersih. Satu ukuran dewasa untuknya, dan satu ukuran kecil untuk anak laki-laki. Di bagian dadanya, terdapat bordir kecil bergambar ilustrasi minimalis sebuah mercusuar dan tulisan kecil: "Tetaplah Jadi Terang".

​"Pak Eric bilang," Gani melanjutkan dengan polosnya, "biar Mbak Sinta sama Juna punya baju kembaran. Biar Juna tahu ibunya itu pahlawan di sini."

​Sinta tertegun. Ia mengusap kain putih yang lembut itu. Di tengah dinginnya investigasi dan audit yang melelahkan, Pak Eric sempat memikirkan hadiah sekecil namun sedalam ini untuknya dan Juna. Seolah Pak Eric ingin menebus kerinduannya pada anaknya sendiri yang telah tiada lewat kebahagiaan Juna.

​"Terima kasih, Gani. Sampaikan terima kasih banyak buat Pak Eric kalau kalian komunikasi lagi ya," bisik Sinta, suaranya tercekat di tenggorokan.

​Rita langsung memeluk Sinta sambil terisak. "Tiga tahun, Mbak! Janji ya, jangan lupakan kita!"

​Andi dan Joko hanya bisa menyalami Sinta dengan genggaman erat. Saat sebuah mobil travel putih berhenti di depan mess, Sinta tahu waktunya benar-benar sudah habis. Ia naik ke dalam mobil, memeluk tas kertas berisi baju putih itu erat-erat di pangkuannya.


​Mobil travel putih itu mulai bergerak perlahan, meninggalkan debu yang mengepul di belakangnya. Sinta menyandarkan tubuhnya ke kursi yang sedikit keras, membiarkan kepalanya bersandar pada kaca jendela yang bergetar. Ia menurunkan kaca mobil sedikit, membiarkan angin panas Borneo menerpa wajahnya untuk terakhir kali.

Lihat selengkapnya