MESIN BESAR

zanu ariska wakhida ainia
Chapter #34

BAB 34 LAVENDER DI LANTAI 5


Satu minggu telah berlalu sejak Sinta menjejakkan kaki kembali di tanah Jawa. Sabtu pagi ini, udara Lamongan terasa sejuk. Sinta sudah rapi, begitu juga Juna yang tampak tampan dengan kaos putih bersihnya. Sebelum Senin depan ia resmi mulai berkantor di Surabaya, ada satu janji yang harus ia tunaikan.

​"Juna sayang, mau ikut Mama jalan-jalan ke Surabaya? Kita jenguk teman Juna, namanya Kak Ayu. Dia lagi sakit," ucap Sinta sambil merapikan kerah baju anaknya.

​Juna mengangguk antusias. "Kak Ayu baik ya, Ma? Juna bawa mainan buat dia?"

​"Iya, Kak Ayu anak hebat. Kita bawakan oleh-oleh khas Lamongan juga ya buat Kak Ayu."

​Perjalanan mereka dimulai dengan deru mesin kereta api Komuter yang membelah persawahan hijau menuju Kota Pahlawan. Di dalam gerbong, Juna tak berhenti berceloteh. Matanya berbinar menatap keluar jendela, sesekali ia menunjuk gedung-gedung tinggi yang mulai terlihat saat kereta memasuki wilayah Surabaya. Di pangkuan Sinta, dua tas plastik berisi Wingko Babat dan jajanan khas Lamongan terjaga rapi.

​Turun di stasiun, mereka langsung menuju sebuah Rumah Sakit besar di tengah kota. Aroma antiseptik yang tajam menyambut mereka di lobi yang megah.

​"Kamar atas nama Ayu Fanitasari, Sus?" tanya Sinta pada resepsionis.

​"Lantai lima, Ruang Lavender nomor 502, Bu," jawab suster itu dengan senyum ramah.

​Langkah kaki mungil Juna beradu dengan lantai marmer yang mengkilap. Saat masuk ke dalam lift, Juna terus melompat kecil. "Ma, lift-nya goyang-goyang! Kayak naik wahana ya! Nanti Kak Ayu senang kan lihat Juna?"

​Sinta hanya tersenyum tipis, mengelus rambut anaknya. Hatinya justru berkecamuk. Ia tahu, di balik pintu Lavender itu, ada sebuah kenyataan pahit yang sedang diperjuangkan.

​Ting!

​Pintu lift terbuka di lantai lima. Suasana di sini jauh lebih tenang, hanya ada suara roda brankar yang didorong suster di kejauhan. Sinta menggandeng tangan Juna, menyusuri lorong panjang hingga langkahnya terhenti di depan pintu kayu bernomor 502.

​Sinta terpaku sejenak. Tangannya yang memegang gagang pintu terasa dingin. Ia menarik napas panjang, mengisi paru-parunya dengan keberanian, lalu mengembuskannya perlahan. Ia menoleh ke arah Juna yang sudah siap dengan senyum lebarnya.

Lihat selengkapnya