Batuknya menyalak sore itu. Meski dengan napas terbatas Awing tetap bekerja, membereskan kostum yang harusnya sudah selesai. Tahu-tahu matahari sudah dilahap senja, ketika Awing menengadahkan kepalanya ke luar jendela. Pesanan kampus seni memang sedang banyak-banyaknya beberapa bulan ini.
Langit di Bukit Alkatiri menyerupa karembong warna jingga, terbentang dari ujung utara ke penghujung barat. Panorama menawan itu, hanya bisa ditemukan di Sumedang kala magrib menjelang. Rumah Awing Atmadilaga ada di antara jarak panengah(1), dikitari oleh bunga sedap malam—berbanjar sepanjang lintasan kaler ka kulon(2). Seperti namanya, aroma bunga-bungaan berbau mistis itu menjengul di udara saban malam, menebar wangi zaman regentschappen(3) dulu yang terbentang 45 km timur laut dari Kota Bandung.
Dulu, seorang gadis mungil penghuni rumah kerap memetik bunga saat senja. Sekarang tidak lagi, gadisnya sudah dewasa.
Rumah berpadu padan bilik awi dan batako Purwakarta miliknya, memang terlihat mencolok—bukan karena mewah, justru karena terasa selera empunya begitu nyeni. Bangunan yang diapit tiang kokoh kelapa glugu, tak melupakan fondasinya yang moderen, meski cuma jalinan batako bertumpuk. Semua material memang bukan bahan mahal, tapi karakter dan desain unik memberikan karakter yang kuat. Dindingnya berhiaskan topeng dan boboko mangkup, tak banyak yang tahu kalau benda-benda itu adalah instalasi sendratari.
Pada ruangan utama berjendela besar, si empunya menaruh sebuah mesin jahit Singer yang masih dipaksa bekerja. Dengung monoton mengalun di sudut ruangan, menyerupai suara pompa air rusak. Bunyinya memecah keheningan sore yang tenang. Awing tua membungkuk, mengamati jarum jahitnya yang naik-turun dalam irama konstan, menembus kain beludru. Di balik lensa kacamata yang tebal, ia sedang menjelujur.
Setiap benang yang Awing rentangkan, punya cerita sendiri dalam sebuah naskah sendratari. Kisah perpolitikan manusia-manusia wayang.
Jemarinya bergerak lambat tapi tengkes. Awing sudah hapal betul dengan yang dilakukannya. Ia menusuk kain tebal dengan jarum, mengait benang, dan menempelkan payet-payet buricak burinong(4). Cara beliau memutar roda, menginjak pedal, hingga memotong benang, adalah cerminan puluhan tahun mengawini pengalaman.
Belakangan ini, Awing merasa kalau dunia di sekitarnya berlari terlampau cepat—semua orang tergesa-gesa. Dari mulai memesan, meminta buru-buru, tak ada lagi yang peduli pada aturannya merancang karya. Karena baginya, setiap kostum punya jiwa, yang tak bisa sembarang dijahit begitu saja. Awing adalah seorang maestro. Dan pada kaki encoknya, ia memercayakan nasib sebuah kostum. Kaki-kaki ringkih itu dipaksa memompa pedal lebih giat, agar jarum bisa menembus permukaan kain tebal. Semakin dipaksa, jarum semakin rentan untuk patah.
Trak!
Akhirnya betulan patah. Sudah puluhan tahun Awing tak mematahkan jarum mesin. Firasat apa ini?
Sambil mengumpat mau tak mau ia memasang jarum baru dengan kesusahan, maklum matanya sudah rabun.
Budak teh pikiraneun.(5)
Lagi-lagi serapahnya melilah, pada seseorang dalam pikirannya yang sejak subuh tadi mengganggu.
Ia benci diburu-buru seperti ini. Berbeda dengan mesin-mesin pabrikan zaman kiwari(6), jahitannya memang tak bisa dikebut demi memenuhi permintaan pasar begitu saja. Awing Atmadilaga begitu mengimani detail dan presisi.
Ruangan bengkel Awing selalu khas, bau minyak mesin dan debu kain, ditambah sangit lilin—yang ia gunakan untuk menggaris pola. Ujung jari Awing yang penuh warna, terlihat merah, sedikit biru, dan seulas kuning.