Mesin Jahit Bapak Awing

Foggy FF
Chapter #2

Rengkuh

Rombongan memulai perjalanan mereka dari jantung kota Garut—yang tumben agak berkabut pagi itu, menuju palawangan Leuweung Sancang. Mereka meninggalkan ramai dan desing kendaraan bermotor, memasuki kawasan yang lebih asri dan sunyi. Udara masih bergerak sepoi-sepoi, jalan setapak dinaungi rimbun pepohonan aneka hijau, yang menemani lelah para jagawana membelah separuh jarak. 

Ada murung di wajah perempuan yang melangkah paling cepat. Saribanon menatap ke depan, pikirannya jeri—melayang jauh ke Sumedang. Baginya, perjalanan ini khusyuk sekaligus mengganggu. Penghayatannya akan keteraturan alam semesta sebagai bukti kebesaran Sang Ilahi, memang selalu jadi motivasinya, tetapi karena belakangan bapaknya sedang sakit, pikiran Saribanon selalu digelayuti kekhawatiran. Belakangan ini, ia berharap setiap langkahnya beraih pahala kebaikan, tetapi kenapa manusia renta yang dihormatinya di Sumedang sana malah berbeda. Bapak begitu tinggi hati, yang ia peduli hanya soal nama besar sebagai budayawan.

Menurutnya, Awing Atmadilaga tak pernah paham apa yang putri kandungnya sendiri yakini. Baru mendengar penjelasan darinya saja, Bapak sudah berkomentar pedas, pakai bawa-bawa nama Ambu. 

Kalau kamu tak mau meneruskan apa yang aku wariskan, kamu mengkhianati cita-cita almarhum ibu sendiri.”

Mereka memang mencintai orang yang sama dengan sepenuh hati, termasuk sama-sama kehilangan sosok itu. Meski keduanya berduka dengan cara berbeda, tapi mereka sama-sama tak ingin mencederai memori baik tentang Ambu. Awing menjadi keras, arogansinya tentang nama besarnya akan selalu menjadi alasan Saribanon sulit bertumbuh.

Adha menemani langkah cepat Saribanon, tanpa banyak bertanya. Namun ia tahu, hati perempuan yang berjalan di sisinya sedang tak di sini. Ia lantas menunjuk ke arah barisan pepohonan. “Itu parahlar dan werejit.”

Saribanon mengikuti arah telunjuk Adha. Pohon berdiameter 1,5 meter dan tinggi 45 meter, menjulang di kejauhan. 

“Konon katanya, Kostermans adalah orang yang pertama kali mencatat penemuan habitat meranti tua. Sama sepertiku, aku juga menamai tim jagawana pertamaku dulu, Anisoptera Costata. Ya, seperti tetumbuhan ini.”

Masam di wajah Saribanon perlahan pudar. Upaya Adha untuk menarik kembali perhatiannya pada perjalanan, membuatnya terharu. “Makasih, Dha.”

Lelaki itu terkekeh. “Sayang kalau perjalanan ini kamu sia-siakan, demi memikirkan gundah yang dibekal dari rumah.”

Saribanon melempar sebutir kerikil ke tepi jurang. 

“Bapak gak bakalan apa-apa,” ucap Adha saat mereka mencapai pinggir hutan. “Soal durhaka itu kan cuma kekhawatiran kamu aja. Gak setiap perjalananmu merambah hutan, akan disumpahi jadi anak durhaka. Yang kita lakukan tadabur alam, bukan piknik leha-leha.”

Saribanon menatap kanopi hutan yang menjulang di atas sana, “Kamu kayak nggak tau Bapak.”

Langit Sancang membentang luas, biru dan tenang. Langkah keduanya lanjur memelan, menatap takjub pohon-pohon meranti merah yang menjulang pada tanah kambisol. Tangan Saribanon menyentuh daun bobondelan di sepanjang jalur setapak. Dersik angin mengalir lembut membelai tengkuknya, membawa harum tanah dan pepohonan yang berbalut embun. Sejauh mata memandang, hijau membentang, langit terang benderang. Tak henti Saribanon mengucap syukur di bibirnya. Di sinilah batinnya menemukan ketenangan, jauh dari hiruk kehidupan yang tak pernah benar-benar selaras dengan jiwanya.

Lihat selengkapnya