Saribanon menapakkan kaki di pekarangan rumahnya yang selalu memancing rindu berkecamuk di dadanya, perasaan campur aduk antara kecemasan dan kasih sayang. Setelah sekian lama di Leuweung Sancang—tempat yang selalu membuatnya merasa dekat dengan Sang Pencipta—ia tak bisa mengusir bayang-bayang wajah Bapak. Awing Atmadilaga, memang seseorang yang dihormati di daerah sini. Ia telah menjadi sosok sentral dalam hidup Saribanon, tapi kini ia merasa ada jurang besar yang memisahkan prinsip mereka.
Ketika memasuki rumah yang lengang, Saribanon tahu di mana Awing berada. Ruangan yang tak seberapa besar, dengan jendela terbuka lebar itu layaknya tempat sang bapak bersemedi, dan menumpahkan rasa cintanya dalam mencipta busana tari.
Saribanon mendapati Awing sedang duduk di ruang studionya, tenggelam dalam tumpukan kain dan payet-payet yang berserakan. Ia tak perlu bicara untuk tahu bahwa bapaknya sedang memikirkan sesuatu yang berat, sambil menatap kostum berkilauan di depannya. Setelah beberapa saat hening, Awing menoleh, suaranya tenang tapi tajam.
"Akhirnya Banon pulang," katanya—menggunakan nama panggilan yang sedari kecil akrab di telinganya. “Kirain Bapak, kamu lupa jalan pulang, sampai berminggu-minggu.”
Rasanya, ingin Saribanon memutar bola mata. Alih-alih membalas dan menyakiti perasaan bapak, ia memilih untuk mencium telapak tangan Awing tanpa bersuara.
“Mandi, terus makan.” Awing masih menatap mesin jahitnya, tapi tangannya terlihat gemetaran. “Kamar atas sudah dibersihkan.”
“Iya, Pak.” Saribanon memutuskan untuk berdamai. Tepat ketika kakinya hendak melangkah menuju tangga, Awing berdeham dan mengajaknya bicara.
"Bapak tahu pikiranmu. Orang tua ini masih saja sibuk mengerjakan sesuatu, yang kamu anggap membosankan.” Ia terkekeh. “Karena buat Bapak, betapa pentingnya menjaga warisan ini. Pakaian adat bukan cuma kain, bukan cuma bentuk. Ini sejarah, identitas kita sebagai orang Sunda. Bagaimana mungkin kita membiarkannya hilang begitu saja?"
Saribanon menarik napas panjang, mulai deh, batinnya bergumul. Ia berusaha mencari kata-kata yang tepat untuk menjawab. Ia mencintai bapaknya, mencintai tanah dan budaya tempatnya tumbuh. Namun, hatinya juga dipenuhi oleh kehausan yang jauh melampaui urusan duniawi. Merambah alam bebas bukan lagi sekadar hobi buat Saribanon, melainkan sebuah laku tadabur. Setiap perjalanan, setiap baris pohon, aliran sungai, dan burung yang berkicau di puncak dahan adalah manifestasi kebesaran Tuhan yang terus ia eja. Ia menemukan kekhusyukan di tengah hutan yang tak pernah bisa ia rasakan di antara riuh manusia.
"Aku paham, Bapak," jawab Saribanon pelan. "Tapi bagiku, alam bukan sekadar tempat bermain atau melarikan diri. Di sana, aku mencari Tuhan, Pak. Saat aku masuk ke hutan, melihat rantai kehidupan yang begitu teratur, aku merasa sedang membaca ayat-ayat-Nya yang tak tertulis. Apa artinya kita membanggakan tradisi dan identitas manusia, jika ciptaan Tuhan yang paling agung—alam semesta ini—justru luput dari penghayatan kita? Ini adalah caraku bertumbuh, Pak. Jalan untuk mengenal Penciptaku lebih dekat."
Awing mengerutkan kening, terlihat jelas bahwa kata-kata Saribanon menyentil hatinya, meski ego lelakinya enggan runtuh begitu saja. "Alam itu selalu ada dan sudah diatur yang di Atas, Banon. Tapi kalau tradisi, kalau tidak manusia yang menjaga, bisa hilang selamanya. Hutan yang terbakar bisa tumbuh kembali, tapi budaya yang mati, mustahil dihidupkan lagi."
Saribanon kembali merasa sesak di dada. Keduanya bersikukuh pada kebenaran masing-masing. Tanpa mengucap apa-apa lagi, ia melangkah dan keluar ke halaman belakang untuk mencari ketenangan.
Udara segar malam itu menyambutnya, namun pikirannya masih bergejolak. Kepalanya mendongak, memandang bintang-bintang yang berkelip, mencari wajah Sang Ilahi di langit malam yang luas. Tapi pandangannya tiba-tiba tertarik pada sesuatu yang lain. Di ujung halaman, di bawah bayangan pohon besar, ia melihat sesosok laki-laki yang tengah duduk di depan kanvas, punggung lelaki itu menghadap ke arahnya.