Bangunan tua tanpa pagar dikelilingi oleh kebun luas, tanaman hijau berbanjar, Awing duduk di teras dengan cangkir kaleng pada genggamannya. Sambil menyeruput teh tawar yang sudah dingin, ia menikmati cahaya matahari siang ini yang cukup terik, memantulkan bayangan pada dinding-dinding tua di teras. Wajah Awing yang berkeriput tampak penuh beban. Belakangan, ia selalu teringat pada almarhum istrinya, Pitaloka, seorang penari tradisional Sunda yang membuatnya mengikat sumpah mati untuk tak menikah lagi, memenjaranya dalam rasa kehilangan yang cukup dalam.
“Pak….”
Sapaan lembut Saribanon, membuatnya menoleh. “Lagi panas begini, kok Bapak malah di sini?’
Awing terkekeh. “Lihat bunga-bunga punya Ibu, menikmatinya kan bisa siang malam,” ucapnya melantur. “Kamu sudah rapi mau kemana?”
Saribanon menggeleng. “Apa karena kalau di hutan, aku jarang mandi, jadi mandi dan berdandan sedikit, aku dibilang rapi?”
Awing kembali terkekeh. Ia mengedikkan dagunya ke arah kursi di teras. “Duduk, Banon. Bapak mau bicara.”
Ragu-ragu, Saribanon mengempaskan punggungnya di kursi rotan. Ia ikut mengamati bunga sedap malam di hadapannya.
“Mang Oleh sedang sakit, jadi kebun agak berantakan.” Awing memulai pembicaraan dengan canggung. “Bapak nggak sempat untuk beres-beres.”
Saribanon tersenyum sekilas. “Kan sekarang udah ada yang bantu-bantu?”
Awing menoleh. “Sudah ketemu sama Si Damar?”
Saribanon mengangguk sambil mengamati jemarinya, lalu menggigiti kuku telunjuknya, kebiasaan yang ia lakukan sedari kecil. “Anaknya baik?”
Awing diam menatap sebuah mobil yang baru saja masuk. Tamu untuknya.
‘Ya, lumayan lah, daripada kesepian,” ucap Awing dalam nada menyindir.
“Pak….” Saribanon menatap wajah bapaknya, tapi ia diam tak melanjutkan, seolah kebingungan merespon ucapan Awing.
Sejak kepergian Pitaloka, warisan budaya menjadi fokus utama Awing. Meneruskan seni pembuatan kostum adat bukan hanya tugas, tapi cara dia menjaga kenangan istrinya tetap hidup. Namun, ada satu hal yang menjadi duri di hatinya: Saribanon, putri tunggal mereka, lebih memilih menjelajah hutan dan meneliti konservasi alam daripada meneruskan jejaknya. Itulah kenapa ia sering bicara sinis, pada putrinya itu.
“Ada tamu,” ucapnya. “Hei, Ham, mau ambil kostum?” serunya ke arah rombongan yang baru saja turun dari mobil. Ilham dan beberapa perempuan muda turun dari mobil, penampilannya seperti penari. Awing mengenali salah satunya.
“Lho, ada tamu langka nih?” ucap Ilham begitu melihat Saribanon duduk di sebelah Awing. “Kapan pulang dari hutan, Banon?”
Saribanon tersenyum kecil, kemudian wajahnya kembali datar. “Kemarin. Pak Ilham apa kabar?” Ia berdiri dan menyalami Ilham, kemudian melempar senyumnya pada beberapa perempuan tinggi semampai. Saribanon mengagumi sikap tubuh dan langkah mereka yang gemulai, mirip gerak-gerik almarhum Pitaloka, ibunya.