Awing berdiri di depan cermin besar di ruang kerjanya, mencoba memperbaiki baju pangsi yang akan ia kenakan dalam sebuah rapat di perguruan tinggi seni siang nanti. Pandangannya terarah pada sosok tua yang lelah dalam cermin—keriput di wajahnya semakin kelihatan, matanya sedikit memerah karena kurang tidur. Persiapan sendratari kali ini berbeda, lebih rumit. Tak hanya karena pertunjukan ini akan dihadiri oleh perwakilan pertukaran seni dari negara lain, tetapi juga karena dirinya sudah tak muda lagi.
Namun di balik semua itu, yang paling mengganggunya adalah Saribanon. Putri satu-satunya yang seharusnya bisa diandalkan, malah semakin jauh dari harapan-harapannya. Saribanon seperti telah lepas dari genggamannya, sibuk dengan dunianya sendiri, bukan lagi gadis mungil yang biasanya duduk mengamatinya bekerja. Awing sadar, ia kesepian.
"Banon…." Awing memanggil pelan dari bawah tangga, suaranya sedikit serak.
Terdengar suara derit pintu dari lantai atas yang didominasi oleh ornamen kayu. Suara langkah ringan putrinya terdengar menghampiri. Tak lama, gadis itu muncul di hadapannya dengan raut wajah lebih cerah dari biasanya, tapi ada jarak di matanya yang membuat Awing terkadang gemas.
“Ya, Pak?” suaranya datar. Ia seolah sudah bisa menduga apa yang akan dibicarakan bapaknya.
"Mau temani Bapak ke kampus? Ada rapat dengan perwakilan dari luar negeri, sebagai mahasiswa Hubungan Internasional, sudah sepantasnya bahasa inggrismu lebih lancar dari Bapak," ucap Awing dengan nada yang tak bisa disembunyikan ketajamannya. "Pertunjukan ini penting buat Bapak, Banon. Orang-orang dari luar negeri ini, punya peranan penting buat negara kita. Ini kesempatan besar untuk memperkenalkan budaya kita lebih luas lagi."
Saribanon menunduk, mengamati ujung kakinya. "Aku ada pertemuan dengan tim pencinta alam sore ini, Pak. Kami sedang merencanakan ekspedisi ke Gunung Lawu minggu depan."
Ekspresi wajah Awing berubah seketika. "Gunung Lawu? Bapak kira, Leuweung Sancang yang terakhir. Habis itu, kamu konsentrasi untuk menyelesaikan skripsi," gumamnya sinis. "Banon, sampai kapan kamu mau berlarut-larut dengan hal-hal yang tidak ada hubungannya dengan masa depanmu? Gunung dan hutan itu tidak akan memberikan apa-apa!"
Saribanon menghela napas pelan, berusaha menahan emosi yang bergejolak. "Bukan tidak memberikan apa-apa, Pak. Di sana aku menemukan ketenangan yang nggak bisa aku temukan di sini. Alam kasih banyak sama aku. Aku merasa bisa menyentuh dan mengenal Penciptaku. Bapak mungkin merasa apa yang Bapak lakukan ini mulia, tapi bagiku, obsesi pada warisan seni, panggung, dan kostum-kostum megah itu cuma urusan duniawi. Itu semua fana, Pak, nggak sejalan sama jalan keilahian yang lagi aku cari."
"Tidak sama!" seru Awing, suaranya semakin keras. “Apa kamu tidak lihat betapa pentingnya ini? Bukan cuma untuk Bapak, tapi untuk kamu juga! Warisan ini adalah milikmu. Apa harus Bapak ingatkan kamu terus-menerus?”
Saribanon merasa hatinya tercabik. Di satu sisi, ia memahami harapan bapaknya. Awing adalah sosok yang sangat dihormati, dan Saribanon tahu betapa bangganya pria itu pada peninggalan budaya. Namun di sisi lain, batiniyahnya sudah terikat pada laku tadabur—panggilan untuk mencari kedekatan dengan Sang Ilahi lewat rimba belantara, menjauh dari gemerlap panggung yang ia anggap hanya perayaan atas ego dan keduniawian manusia.