Kicau burung jalak suren terdengar hingga pekarangan, memecah heningnya fajar yang masih dilapisi embun. Keciapnya tak sekadar melodi biasa, melainkan rangkaian nada bervariasi—kadang tinggi dan tajam, seolah menyampaikan pesan alam, kadang juga rendah dan lembut, menyerupai bisikan di antara dedaunan yang bergoyang. Karena iramanya yang teratur, terkadang orang salah duga begitu melihat bentuknya; jalak suren ternyata tak cuma indah suaranya.
Pagi itu seolah datang lebih lambat, karena sejak semalam hujan turun deras. Hawa dingin membuat orang-orang terlelap lebih pulas dari biasanya. Damar sedang menjerang air untuk termos, ketika Saribanon menyapanya.
“Dingin sekali, ya?”
Damar menoleh, seraya tersenyum. Ia menyiapkan dua cangkir kopi, dan teh di cangkir kaleng. Bisa ditebak, yang teh tawar punya siapa. Ya, Awing tak suka kopi, sejak tahu batu ginjal merenggut nyawa istrinya. Ia percaya, kalau terlalu banyak kafein, niscaya akan berpengaruh pada kondisi ginjal setiap manusia, meskipun Awing tetap membandel untuk begadang.
“Kamu tuh, tidur di bengkel Bapak terus?”
“Iya,” jawab Damar sambil menyodorkan secangkir kopi hangat.
“Makasih.” Saribanon menerima cangkir itu, namun matanya menatap Damar dengan sorot menyelidik. “Kenapa nggak di kamar belakang dekat musala? Bengkel itu dingin banget, jendelanya kan nggak bisa ditutup. Apa sebenarnya yang membuatmu sudi bertahan di tempat sedingin itu, Mar? Bapak memang butuh asisten, tapi pengorbananmu kadang... terasa berlebihan.”
Damar berdiri sambil menyandar pada tembok dapur, kakinya menyilang. Ia menyeruput kopinya sebelum menjawab. “Kan, ada kain sarung,” jawabnya enteng.
“Bapak nggak suka penghuni rumahnya sakit. Dan Bapak juga terlalu mudah percaya pada orang.” Saribanon memainkan telunjuknya di tepi cangkir, suaranya perlahan menajam. "Mang Oleh bilang, Bapak sudah menganggapmu seperti penghuni rumah ini. Tapi aku tahu kondisi finansialmu di bangunan belakang sana. Aku cuma berharap, dedikasimu pada pekerjaan ini sungguh-sungguh murni, bukan karena ada niat lain untuk memanfaatkan kebaikan Bapak."
Damar melongo, nyaris tersedak ampas kopi. Ia menatap Saribanon tak percaya, menyadari bahwa di mata putri tunggal Awing itu, dirinya hanyalah seorang oportunis. Senyum hangatnya menguap perlahan.
Saribanon memalingkan wajah, melempar pandangannya ke luar, ke arah surau di kejauhan, tak memedulikan keterkejutan pemuda itu. Anak-anak yang pulang mengaji setelah salat subuh tengah berlarian, melewati semak pembatas antara jalan setapak dengan pekarangan rumahnya. Beberapa anak memberanikan diri menjulurkan lehernya ke arah bengkel.
“Mereka mencari topeng,” tukas Saribanon dingin.
“Topeng?”