Mesin Jahit Bapak Awing

Foggy FF
Chapter #7

Gemuruh

Awing duduk di kursi kayu tua yang telah menjadi tempat perenungannya selama bertahun-tahun. Di depannya, kain-kain yang dulu menjadi pelipur lara, kini terasa hampa. Tangan kasarnya menyentuh lembut sutra halus yang ia gunakan untuk membuat pakaian penari utama, dalam lakon “Srikandi Mustakaweni”. Pikirannya terus berputar, di antara bagan kisah naskah sendratari yang akan dipentaskan, dan pergulatan batin pribadinya, muncul pertanyaan yang mengusik jiwa Awing. Apakah aku terlalu keras pada putriku?

Dia bagian dari diriku, darah dan dagingku. Mengapa dia begitu ingin menjauh? Awing menghela napas panjang. Saribanon selalu mencoba membuktikan pada semua orang, kalau ia bukan bapak dan ibunya, kalau ia punya dunia sendiri yang ia cintai.

Apakah aku salah? Apakah aku terlalu mengekangnya dengan harapanku? Apakah aku tidak pernah benar-benar mendengar apa yang diinginkannya? Suara dalam batinnya terus bicara, mengusik waktu-waktu istirahat, yang seharusnya ia himpun untuk pementasan besar yang mendapuk namanya menjadi tokoh sentral misi pertukaran budaya antar negara. 

Di satu sisi, Awing ingin memercayai bahwa ia melakukan ini semua untuk kebaikan Saribanon, untuk masa depan yang ia anggap benar. Tapi di sisi lain, ada bayangan lain yang mulai muncul, sebuah keraguan yang belum pernah ia akui: Mungkinkah ia hanya ingin memaksakan ambisinya sendiri? Mungkinkah karena ia terlalu takut kehilangan anaknya?

***

Ia berdiri di tepi jendela, memandang ke arah sawah yang menghampar di kejauhan. Rumahnya tak terlalu besar, tapi kebun dan halaman hijau yang mengelilingi pekarangannya, lebih dari cukup. 

Bapak kecewa, pikir Saribanon sambil menggigit bibir. Aku bisa melihat di matanya, Bapak sangat kecewa. Ada beban yang menghimpitnya, beban yang semakin hari semakin berat. Semakin dekat hari kepergiannya ke Gunung Lawu, semakin berat rasanya ia melangkah pergi dari pintu rumah. Besok, seharusnya ia sudah berangkat.

Dari tepi jendela, ia bisa melihat semuanya. Mang Oleh yang sedang memotong rumput untuk makan kambing yang baru saja beranak, juga bayangan Damar yang duduk memunggungi, di rumah panggung yang bapak jadikan musala. Ia sedang melukis. Ah, laki-laki itu —meski misterius— membawa ketenangan buatnya, seolah ia bisa menitipkan Bapak. 

Tanpa sadar, Saribanon mengusap kaca jendela, meninggalkan jejak embun. Ia menghela napas, kembali pada beban pikirannya yang makin mengendap. Saribanon kembali menekuri masalah yang bercokol di kepalanya, tentang menjadi penerus dari sesuatu yang begitu berarti bagi keluarga mereka. 

Budaya dan tradisi itu bukan hal sepele; itu adalah jati diri, akar yang kuat dan dalam. Tapi di sisi lain, hasratnya pribadi sudah sedari lama memanggilnya, dan menumbuhkan rasa cinta. Alam, tumbuhan, perjalanan dan semua yang hidup di sekitarnya selalu membuat dirinya merasa lebih dekat pada kedamaian, pada kemanunggalan, dan baru kali ini ia merasa hidup. Kecintaannya pada perjalanan menyusuri alam bebas adalah berkah yang ia tahu tak akan pernah bisa digantikan dengan kain-kain atau jarum jahit.

Saribanon menatap satu titik di kejauhan, dulu sekali di kebun kersen belakang halaman itu, ia menghabiskan masa kecilnya. Ia melihat Damar sedang menjulurkan tangannya, memungut buah-buah kersen kecil yang berjatuhan. Bibir Saribanon melengkungkan senyum, air liurnya nyaris mentes, membayangkan manis dan wangi buah kersen yang sudah lama sekali tidak dinikmati olehnya. Alih-alih  memikirkan apa yang terbaik untuk dirinya saat ini, Saribanon lekas melangkahkan kakinya ke luar. Menuruni tangga, menuju kebun belakang.

***

Lihat selengkapnya