Mesin Jahit Bapak Awing

Foggy FF
Chapter #8

Nyawang

Gedung kampus kesenian itu menjulang dengan desain unik, dinding-dindingnya dipenuhi dengan mural-mural berwarna terang, mengisahkan dongeng masa lampau kehidupan nenek moyang masyarakat Sunda yang bersahaja. Di tengah kompleks kampus, aula besar berada di ujung persimpangan jalur pejalan kaki, tempat sayup alunan gamelan menggema, menghantarkan harmoni memenuhi setiap sudut dengan getarnya. 

Awing Atmadilaga baru saja masuk, ia mengamati dengan saksama, tatapannya menyapu setiap detail. Ia memasuki aula dengan langkah berat, sambil menatap satu per satu mahasiswa yang tenggelam dalam latihan. 

Sudah lama Awing memikirkan hal ini, tapi ia sedikit ragu. Maka hari ini, di saat muridnya sedang giat berlatih, Awing menemui Wawan, salah satu seniman yang dipercaya olehnya. Dengan sedikit strategi, Awing merasa, putrinya mungkin bisa diarahkan. Maka, keputusan itu dibuat olehnya semalam.

“Kamu yakin mengangkatnya jadi asisten resmi, bisa membantumu Kang?” tanya Wawan  yang sedang menyiapkan peralatan kayu untuk sebuah patung wayang, instalasi yang akan digunakannya sebagai latar pergelaran tari.

Awing mengangguk. “Damar itu…,” Ia lalu berdecak, “memang belum bisa kupegang betul sifatnya. Tapi dia anak berbakat, dia tahu betul nilai dari tradisi ini. Aku harap, kedekatannya dengan Banon bisa membantunya melihat kembali apa yang sebenarnya keluarga kami miliki.”

Wawan memicingkan mata. “Gimana pun, dia itu orang asing, Kang.”

“Eh, kamu tidak setuju dengan gagasanku, Wan?” Awing mematutkan wajahnya ke arah barisan penari, yang kini sudah waktunya istirahat. Mereka mengangguk hormat ke arah Awing, yang dibalasnya dengan senyum kecut. “Lihat mereka, harusnya anakku yang berlatih tari begitu.”

Wawan tertawa. Ia menggelengkan kepala. “Kang Awing ada-ada aja. Anak itu nggak bisa dipaksa, Kang. Dia punya keinginannya sendiri, apalagi anak dengan karakter keras seperti Saribanon. Sifat keras itu kan menurun dari orang tuanya sendiri,” ucap Wawan sambil mengedip.

Awing tak menggubris, sorotnya menerawang menyisir tiap sudut aula yang kini lengang. Institusi seni budaya yang terpilih menjadi satu-satunya lembaga pendidikan terbesar se-Jawa Barat itu, kini membuatnya kembali gundah gulana. Cita-cita besarnya tersanggat di sekolah ini. Ia tak bisa mundur.

Wawan berdeham, sadar kalau Awing sedang tak ingin bercanda. “Mm… ada baiknya, Kang Awing membicarakan hal ini, sama Bambang. Dia kan ketua jurusan seni lukis. Harusnya dia tahu karakter setiap anak didiknya.”

Awing menatap Wawan, mencoba berpikir jernih tentang pendapat sahabatnya itu. “Tapi, menurut pendapat pribadimu, apa dia anak yang baik?”

Wawan menggaruk, lalu memelintir jenggotnya. Ia menerawang, mengingat-ingat wajah anak muda tinggi gondrong, yang pernah dikenalkan Bambang padanya. “Anak itu pernah bantu aku bikin instalasi di sini, bulan lalu, saat pertunjukan teater. Dia bantu melukis latar.” Ia mengangguk-angguk pelan. “Dia kelihatannya bertanggung jawab, dengan tugas yang aku kasih. Meskipun anaknya diam, nggak banyak omong.”

Awing mengayunkan tangannya. “Aku nggak suka manusia banyak omong, Wan.”

Wawan tergelak. “Aku tahu Kang, aku tahu. Makanya, sepertinya dia kandidat yang tepat buat jadi asisten.” Lalu terkekeh lagi. “Jadi, nggak perlu tampak seperti program amal.”

“Aku tidak pernah menjadikan dia ladang amal, Wan. Aku cuma liat potensi, di diri anak itu. Sayang kalau dibiarkan begitu saja.”

Wawan terlihat takjub. Belum pernah seniornya itu, terlihat rapuh dan sentimental dalam menilai seseorang. Awing Atmadilaga, selalu menjadi sosok seniman yang keras, dan tak mudah memuji seseorang, termasuk keluarganya sendiri. Kenyataan bahwa ia terang-terangan memuji pemuda bernama Damar itu, membuatnya terheran-heran. “Kapan Akang mau bilang sama anak itu?”

“Sebelum pergelaran ‘Srikandi Mustakaweni’, sebelum Banon berangkat ke Gunung Lawu.”

“Ha?? Gunung Lawu? Bukannya dia baru pulang dari Leuweung Sancang?”

Awing mendengkus, ia tak menggerutu, tapi sorot matanya menunjukkan kekesalan. Namun ia memilih diam. Wawan paham, kalau seniornya itu tak mau membahasnya.

***

Lihat selengkapnya