Damar resmi diperkenalkan sebagai asisten baru di bengkel seni Awing Atmadilaga, pada semua koleganya. Semua tahu, kalau anak muda itu cekatan–meski pemalu. Tangan-tangannya terbiasa memegang kuas dan alat lukis, tapi kini ia mulai gesit memotong kain dan menjelujur jahitan. Tak butuh waktu lama bagi Awing untuk mengajarinya keterampilan dasar, dan ia melihat potensi besar dalam diri Damar. Namun, di balik keputusan ini, ada harapan tersembunyi—bahwa Damar bisa menjadi jembatan antara Saribanon dan dunia yang ingin ditinggalkan Awing, jika waktunya telah tiba.
Awing tahu, sebentar lagi adalah keberangkatan putrinya ke Gunung Lawu. Beberapa hari ini, Saribanon meninggalkan rumah untuk rapat persiapan. Ketegangan yang menguar di rumah itu, kian tajam. Entah Awing, ataupun Saribanon—tak berusaha saling paham—keduanya masih mempertahankan ego mereka.
Suara deru motor di teras, membuat Awing terperanjat. Ia menoleh ketika Saribanon melangkah masuk ke dalam rumah. “Mengantarkan anaknya pulang, kok nggak pamit sama yang punya rumah?” tukas Awing ketus.
Saribanon berhenti, ia menoleh ke arah bapaknya. Tangannya mengepal. “Bapak belum tidur?”
“Nunggu kamu pulang.”
Saribanon menghela napas. “Aku sudah besar, Pak. Masa Bapak nunggu aku pulang, kayak anak SMP.”
“Kalau kamu bukan anak kecil, harusnya kamu bisa diajak bicara seperti orang dewasa. Nggak menghindari Bapak terus.”
Saribanon menunduk, kepalan di tangannya makin mengencang, hingga buku-bukunya memutih. Saribanon mungkin kesal, tapi ia berusaha menahan diri. Ini adalah bapaknya yang sedang bicara, dan ia adalah orang yang terluka karena kehilangan, seperti juga dirinya. “Bapak ini kan masih batuk, jangan tidur malam-malam,” ucap Saribanon dingin.
Awing mengibaskan tangannya, ia menatap tajam putrinya. “Bapak sedang bahas kamu. Bukan membicarakan kondisi Bapak. Sampai kapan, omongan saya mau kamu dengarkan?”
“Pak…,” Saribanon membalas nada bicara Awing yang meninggi. “Aku ini serba salah menghadapi Bapak.”
Awing diam, sambil menelan ludah. Ia membuang napas pelan, setelah yakin bisa menguasai diri, akhirnya bicaranya melemah. “Makan dulu sana! Si Damar masak sesuatu di dapur.”
Itu adalah sinyal bagi Saribanon untuk lekas beranjak, tanpa mengucap apa-apa lagi, ia berjalan menaiki tangga, bergegas masuk ke kamarnya.
***
Malam hari, ketika suasana rumah kian hening, suara batuk Awing makin menghebat, terdengar bahkan sampa halaman belakang. Lampu kamar belakang dekat musala langsung menyala, penghuninya ikut terbangun.
“Kalau Bapak nggak mau ke dokter, biar aku yang memanggilkan dokter kemari. Bapak harus diperiksa,” ujar Saribanon setengah memaksa. Sambil menaruh gelas berisi air putih hangat di meja Awing.
Batuk terdengar lagi, napasnya bahkan terengah-engah. Seraya menepuk dada dengan kepal tangannya, Awing tampak kewalahan. Perasaan tak nyaman di wajahnya, berbaur dengan raut pucat. “Panggilkan Mang Oleh, Banon.”
Saribanon lekas beranjak, ada sembilu di hatinya. Alih-alih menjawab, bapaknya malah memanggil orang lain.
Mang Oleh lekas datang membawa segelas air rebusan daun sirih, di belakangnya, Damar mengekori. “Neng Banon, Bapak di dalam?”
“Iya, Mang. Masuk aja,” ucap Saribanon sambil tetap berdiri di luar, wajahnya pucat. “Daun sirih memangnya membantu?”
Mang Oleh menyentuh gagang pintu seraya berbisik. “Assalamu’alaikum. Punten Pak, ini rebusan daun sirihnya.” Ia menoleh. “Kata Pak Dokter di Puskesmas, daun sirih bisa jadi antibakteri dan antiradang, Neng.”
Saribanon mengangguk, ia melempar pandangannya ke ujung ruangan. Di lorong sana, Damar berdiri kaku. Saribanon lekas menghampiri sambil meremas tengkuknya. “Kita harus bawa Bapak ke rumah sakit.”