Mesin Jahit Bapak Awing

Foggy FF
Chapter #10

Tepak Bahu

Riuh obrolan berbantah-bantahan, disambung dengan gelak tawa, terdengar hingga pelataran parkir sekretariat “Sawala Rimba”. Adha celingukan mencari sosok yang ia tunggu sedari tadi, sambil sesekali menengok jam outdoor yang melingkar di pergelangan tangannya. Ia mulai berdecak gemas.

“Kenapa sih, Dha?” Agam mulai merasa terganggu. Barang-barang yang sedang ia packing supaya bisa muat ke dalam ransel besar, sedikit terganggu karena Adha berjalan mondar-mandir. “Dia pasti nggak jadi ikut, Dha, udah jam segini.”

Adha masih berjalan mondar-mandir, sambil mengacak-ngacak rambutnya yang memang sudah berantakan. “Dia nggak kontak sama sekali?”

Agam menggeleng. “Itu bapaknya, Dha. Nggak mungkin Banon tinggal.”

Adha lantas mengempaskan punggungnya ke kursi kayu di teras. Ia menepuk layar ponsel, lantas mengetik pesan. Sudah beberapa kali pesan dikirimkannya, tapi Saribanon belum juga membalas.

Motor-motor yang terparkir, berbaris rapi dinaungi kain terpal warna biru, matahari yang bersinar panas membuat pantulan warna terpal menyilaukan mata. Bangunan sekretariat Sawala Rimba terletak di ujung jalan kecil di tengah kota, bangunan tua itu tak memperlihatkan kemewahan sama sekali, bahkan bagi orang yang tidak paham, rumah itu terlihat seperti bangunan tua berhantu.

Beberapa anak muda yang tergabung dalam sebuah tim ekspedisi rambah hutan dan susur sungai, sedang mempersiapkan kembali peta perjalanan mereka, kali ini menuju Gunung Lawu. Adha sebagai koordinator terlihat paling cemas—tentu saja—ini karena wakil yang paling ia percaya dalam proyek perjalanan ini, mengumumkan kemundurannya di detik-detik terakhir.

“Gam, aku ke rumah sakit dulu, ya,” ujarnya setelah yakin kalau persiapan mereka rampung satu persatu. 

Agam sebagai sahabat, tidak bisa mencegah kekeraskepalaan Adha. Baginya, Adha dan Saribanon, sudah seperti busur dan anak panahnya, satu sama lain saling mengisi peran, dalam perjalanan mereka. Agam mengangguk.

“Oh ya, Gam. Saribanon jangan dulu dicoret dari daftar,” tegas Adha, sambil menyambar helm dan kunci motornya. Ia tersenyum lebar penuh arti ke arah Agam yang masih tercenung, sesaat sebelum motor balap itu melesat menjauh.

***

Kabel-kabel dan alat pemantau sudah dilepas dari tubuh Awing. Tinggal selang berisi nutrisi enteral yang masih menusuk kulit keriputnya lewat jarum infus, membelit lengan Awing yang kian hari kian kurus. Di meja sebelah, berbagai obat diwadahi toples-toples mungil, yang sama sekali belum disentuhnya. Awing memang menolak untuk berobat ke rumah sakit sejak lama, kondisi kematian Pitaloka lah, yang membuat Awing terang-terangan menolak pengobatan secara medis. 

“Kondisi batuk Bapak ini, sudah mengkhawatirkan. Kalau Bapak masih menolak untuk diobati, infeksinya akan menyebar,” ucap dokter senior dengan rambut perak itu, membuat Awing kembali batuk hebat. Ia melapisi mulutnya dengan masker rapat, bahkan Awing menolak untuk menggunakan alat bantu oksigen.

Mang Oleh dan Saribanon, yang berdiri dengan setia di sebelah tempat tidur Awing, mendampingi kunjungan dr. Pujianto pagi ini. Mereka bersitatap, berharap bisa menemukan jalan keluar untuk memaksa Awing menelan obat.

“Pak Awing, batuknya makin sering,” ucap Mang Oleh dalam balutan kekhawatiran. “Saya yang mendengarnya aja, khawatir Pak.”

Awing menahan batuknya. “Biar aja, nanti juga sembuh sendiri.” 

Dr. Pujianto bukanlah dokter yang sembarangan menjatuhkan diagnosa, ia tahu ada infeksi parah dalam paru-paru Awing. “Bapak masih suka begadang ya, Pak?”

Awing menatapnya tajam. Ada sorot melawan, namun tubuhnya mengatakan hal lain, ia tak berdaya. Lantas, Awing menoleh ke arah Saribanon, kali ini matanya meredup, gadis itu lalu menunduk mengamati selang yang membelit tangan Awing.

“Pak….” Saribanon mendekat, ia menyentuh lengan bapaknya yang telanjang tanpa infus. “Bapak harus diobati. Aku mendengar sendiri, batuk Bapak makin parah.”

“Aku harus kerja ekstra keras, supaya pertunjukan besar itu berlangsung sempurna, semua tidak ada yang paham,” ucap Awing terdengar seperti geraman, ia menahan batuk. “Kamu nggak paham, tanggung jawab seperti apa yang Bapak emban.”

Saribanon menatapnya dengan bola mata bergerak-gerak, ia sulit bicara. “Gimana aku mau paham, kalau Bapak nggak pernah kasih kesempatan buat dipahami,” gumamnya sebelum terdiam. Saribanon menatap ke arah pintu, orang-orang tiba-tiba berdatangan menjenguk Awing.

Ilham dan beberapa orang penari datang menjenguk. Ia membawakan sekeranjang jeruk garut gemuk-gemuk, yang tampak menggiurkan. “Ini buat Kang Awing, katanya kalo buah-buahan mah boleh, ya?”

Awing kembali terbatuk.

Lihat selengkapnya