Mesin Jahit Bapak Awing

Foggy FF
Chapter #11

Srikandi Mustakaweni

Kondisi Awing Atmadilaga yang sedang istirahat total di rumah sakit, membuat Ilham dan para penari, terpaksa berhadapan dengan Saribanon dan Damar, untuk mengurus kostum pergelaran. Meski roman para penari dan Ilham khawatir, tapi bagaimana lagi, mereka harus bisa menerima kondisi kesehatan Awing.

Hari ini, Mang Oleh yang menjaga bapaknya di rumah sakit. Saribanon berusaha mewakili Awing di bengkel kostum rumah mereka. Ia mengamati setiap kostum yang disiapkan Damar dengan hati-hati.

Kisah Pandawa dan Kurawa dalam epos Mahabharata, selalu terngiang sejak Saribanon masih kecil. Awing selalu membacakan dan menjelaskan kisah itu dalam berbagai versi, Jawa maupun India. Kisah yang diceritakan Awing, bukan hanya tentang perang antara dua keluarga, tetapi juga perang internal di dalam hati manusia—perang antara keinginan untuk melakukan kebaikan dan godaan untuk terjerumus dalam kejahatan.

Bagi Saribanon, jelaslah kalau Pandawa menggambarkan manusia yang—meskipun menghadapi kesulitan dan ketidakadilan—tetap berpegang pada prinsip-prinsip moral. Kurawa, sebaliknya, menunjukkan bagaimana kebencian, keserakahan, dan ambisi yang tidak terkendali dapat merusak diri sendiri dan orang lain.

Pada akhirnya, kisah ini mengajarkannya tentang kebaikan yang membutuhkan pengorbanan besar dan jalan yang lebih sulit, tetapi pada akhirnya akan memenangkan kehormatan dan kedamaian. Kejahatan mungkin membawa kemenangan sesaat, tetapi akan membawa kehancuran dan penyesalan dalam jangka panjang. Epos Mahabharata, mau tak mau menjadi nilai yang memengaruhinya dalam keseharian hingga saat ini.

Ilham Budiman sang koreografer, menghampiri Saribanon dan Damar. Di bengkel kostum inilah, semua proses penciptaan Awing kerjakan dengan teliti, semua berlangsung layaknya sihir, menggerakkan tubuh renta Awing untuk menjahit kostum-kostum menakjubkan. Hingga hasilnya bisa mereka lihat dengan takjub. Pantas sampai sakit, gumam Ilham dalam hati.

“Awing Atmadilaga memang selalu luar biasa.” Ia mengelus selembar kain penuh payet yang kelak akan digunakan penari utamanya, saat memerankan Srikandi. Kostum satunya lagi tak kalah indah, kostum Mustakaweni, sang antagonis yang tak kalah memukau.

“Bapak kalau udah kerja sampai lupa waktu,” ucap Saribanon sambil berdecak. Ia mengamati para penari latar yang tengah mencoba kostum-kostum. Saribanon terpesona, melihat satu-satu penari keluar dari ruang ganti. “Bahkan, untuk latar aja bisa sebegitu detailnya.”

“Ya, begitulah Kang Awing. Makanya… nggak ada gantinya.” Ilham bertukar pandang dengan Saribanon, kemudian berpindah menatap Damar.

Laki-laki muda gondrong itu bergeming. Meski kaku, Saribanon tahu kalau Damar mendengarkan dan mengamati dengan jeli. Ia tahu kalau lelaki itu bukan seniman sembarang. Saribanon menyaksikan sendiri, bagaimana tangan terampil itu saat membantu bapaknya dalam mencipta karya. Apapun medianya, Damar adalah lelaki cerdas yang memiliki kemampuan berkesenian yang menakjubkan.

Saribanon berdiri tepat di sebelah Damar. Ia berbisik, “ada yang harus diperbaiki nggak?”

Damar mengangkat alisnya, menoleh ke arah Saribanon. Pipinya bersemu merah, merasakan bahu mereka bersentuhan. “Ehm, perbaikan kostum yang mana?”

Lihat selengkapnya