Sudah nyaris seminggu, Awing dirawat di rumah sakit. Kesehatannya masih belum juga pulih, batuknya mulai reda tapi ia jadi mudah lelah. Selang yang tadinya banyak, dan kabel-kabel yang melilit tangan kurusnya sudah mulai berkurang. Mang Oleh, tak lagi selalu menunggu, kadang Awing menyuruhnya pulang dan cukup membawakan kebutuhan yang ia perlukan dari rumah. Kali ini, Saribanon yang menemani.
Awing beringsut, ia tak mau membangunkan anaknya yang tertidur pulas dalam posisi duduk. Tangan keriput itu mencoba meraih ponsel di meja, alih-alih bisa meraihnya, ponsel terlepas dan ia menyenggol gelas di meja hingga jatuh berkeping-keping.
Prang!!
Saribanon yang sedang bergelung di kursi, sontak terlonjak hingga berdiri. “Bapak!”
Awing meringis. “Nggak apa-apa, kok, cuma mau ambil HP.”
“Duh, Pak. kenapa nggak bangunin aku aja, sih?”
“Bapak nggak apa-apa?” Satu orang suster yang paling panik, datang tergopoh-gopoh. Ia lekas mengecek keadaan dirinya. Namun, setelah tahu apa yang dilakukan si pasien, suster berusia lanjut itu mengibaskan tangannya. “Lain kali, minta tolong Pak. Saya pikir, Pak Awing jatuh tadi.”
Awing tak menjawab, wajahnya memberengut.
“Bapak mau cari apa?” Saribanon lekas membuka kunci ponsel Awing, dan menyodorkan ke arahnya. “Mau telpon?”
Awing menggeleng, wajahnya yang tadi masam kini meringis seperti menahan sakit. “Bapak seperti orang lumpuh. Tidak bisa apa-apa.”
“Hus, Bapak!” Saribanon mengempaskan kembali punggungnya ke kursi, setelah menyerahkan ponsel ke arah Awing. Ia mengamati bapaknya, yang sedang menepuk-nepuk gawai di tangan. Saribanon berdecak gemas. “Namanya orang sakit, Pak. Ya, harus sabar, istirahat. Biar lekas sembuh.”
“Banyak yang membutuhkan Bapak di kampus. Bapak kan harus mengecek persiapan pertunjukan.”
“Pak… bahkan aku sudah berkorban buat kesembuhan Bapak, semua orang melakukan usaha maksimal biar pertunjukan Bapak sukses. Bapaknya di sini yang tenang dan jangan membandel.”
Awing menatap wajah Saribanon, rautnya memucat. “Kamu….” Ia tak melanjutkan kalimatnya, lantas terbatuk-batuk kembali dengan keras.
Sambil menyodorkan segelas air, Saribanon menepuk punggung bapaknya perlahan. “Sudahlah Pak, percayakan sama Pak Ilham dan Damar, aku yakin pergelaran sendratari di kampus akan berlangsung dengan lancar.”
Selesai minum, Awing mengusap mulutnya dengan punggung tangan. “Bapak khawatir sama Damar.”
“Lho? Kok, gitu?”
Awing berdecak. “Anak itu selalu memasukkan unsur pribadi ke dalam kostum-kostum bikinan Bapak. Ya warna, payet, detail-detail yang seharusnya cukup dia ikuti saja dari yang Bapak instruksikan.”
“Bukannya malah bagus, Pak? Kalo asisten Bapak punya inisiatif sendiri. Damar itu seniman, Pak, sama seperti Bapak. Dia tahu yang dia lakukan.”
“Iya… tapi dia mahasiswa seni lukis, bukan seni tari.” Awing mulai terdengar sinis. Egonya naik hingga ubun-ubun. “Mana tahu dia soal filosofi kostum.”
“Bapak ini gimana sih, terus kenapa Bapak pilih Damar buat jadi asisten, kalau menurut Bapak dia nggak ngerti apa-apa.”
Awing mengangkat bahu, tak menjawab.
“Apa ini proyek amal buat Bapak?”
Ia masih bungkam, tak menjawab, lalu pandangannya tertuju ke arah pintu. “Mang Oleh bilang, Damar suka bareng sama kamu, menyiapkan kostum-kostum tari?”
Saribanon yang merasa, gerak-geriknya diawasi oleh Mang Oleh, terlihat ketus. “Apa urusannya sih Mang Oleh, sampai harus melapor ke Bapak?”
“Tentu saja jadi urusan dia, karena ini urusan penting buat Bapak.” Awing mengamati raut putrinya dengan awas. “Kalau Mang Oleh pulang, kalian kan cuma berdua di rumah. Bapak khawatir.”
Saribanon terbelalak. “Pak… kok bisa-bisanya Bapak berpikir ke sana? Aku sama Damar nggak ngapa-ngapain. Aku sibuk bantu dia buat mempersiapkan pertunjukan di kampus, biar lancar.”
Awing menghela napas, ia menghindari tatapan putrinya yang tajam. Sambil menepuk dadanya, ia melanjutkan. “Kadang serba salah, satu sisi Bapak mau membantunya… satu sisi, anak itu seperti menuangkan isi kepalanya sendiri, untuk kostum-kostum yang Bapak buat.”
Saribanon memutuskan untuk diam, dan tak mengindahkan. Ia kembali menggelung di kursi. “Aku tuh sampai membatalkan perjalananku ke Gunung Lawu, Pak. Padahal Bapak tahu, bagiku berada di alam bebas itu bukan sekadar ekspedisi fisik. Di sanalah aku bisa bertadabur, mencari keheningan yang membantuku merenungi makna hidupku, supaya aku ngerasa dekat dan bisa memaknai hakikat keilahian. Tapi pencarian spiritual itu aku tinggalkan karena tahu Bapak lebih membutuhkanku. Aku melakukan pengorbanan sebesar ini buat Bapak, masa Bapak sendiri berpikir aneh-aneh begitu?”
“Kamu nggak ikhlas bantu Bapak?”
“Lho?” Saribanon mengernyit. Ia seketika menyesal menyinggung soal rencananya ke Gunung Lawu. Bapaknya mungkin sulit memahami bahwa kerinduannya pada semesta adalah murni dorongan jiwanya untuk bertafakur. “Ah, sudahlah Pak. Yang penting Bapak lekas sembuh.”