Langit Bandung yang malam itu cerah, sama sekali tak menampakan kemuraman. Bahkan di beberapa bilangan jalan yang lengang, bintang-bintang tampak terlihat menghiasi malam, seolah ingin ikut menyaksikan meriahnya pergelaran sendratari di Institut Ilmu Seni dan Kebudayaan Bandung. Deretan mobil antri berbanjar, memasuki area parkir dengan teratur.
Pintu masuk menuju gedung pertunjukan penuh sesak, tidak hanya oleh warga kampus, tetapi juga para tamu undangan dari negara utusan kebudayaan, yang datang untuk menyaksikan mahakarya seni yang sarat makna itu. Para pengisi acara mulai berdebar, begitupun orang-orang yang bergerak dinamis di belakang layar.
Di atas panggung, pembukaan sudah berlangsung sejak satu jam yang lalu. Kini acara pamungkas pergelaran sendratari yang membawakan lakon “Srikandi Mustakaweni” tengah berlangsung. Beberapa penonton terlihat antusias, bahkan para dosen yang duduk di baris depan, seolah menahan napas karena takjub.
Lampu perlahan menyoroti sosok Srikandi yang berdiri tegak, berkilauan dalam balutan kostum yang penuh detail dan keanggunan—hasil kreasi tangan Awing Atmadilaga, yang terlihat sekali menunjukkan kecintaan dan ketekunannya. Di barisan paling depan, sang maestro kostum itu tersenyum menikmati acara, didampingi Saribanon yang ikut-ikutan tegang—sambil berharap acara akan berlangsung lancar.
Dinda, sebagai penari utama pemeran Srikandi, melangkah anggun di tengah panggung dengan setiap gerakannya yang memancarkan perpaduan kehalusan dan ketegasan. Di balik lirikan mata yang tajam, Srikandi tampak anggun sekaligus perkasa, jemarinya melenggok halus, memberi keindahan pada tiap gerakan yang dibawakannya. Musik gamelan mengiringi langkahnya dengan irama yang seolah melayang tapi punya kharisma, membawa penonton hanyut dalam kisahnya melawan Mustakaweni. Setiap lengkung dan putaran tubuh Dinda, menyampaikan cerita tanpa kata, membuat semua yang hadir, termasuk tamu dari mancanegara, terhanyut dalam keagungan dan keindahan seni tari, yang gerakannya dirancang oleh Ilham Budiman, sang koreografer handal.
Dinda meloncat dengan anggun saat pertempuran, sosok Srikandi yang tadinya menari tenang, tampak melawan. Ia melakukan gerakan melompat dan memutar dengan tangan terangkat, ini adalah simbol kemenangan atau penyerahan, yang mencerminkan perjalanan emosionalnya selama pertarungan. Setiap gerakan Dinda teramat halus, selaras dengan irama musik dan emosi yang ingin disampaikannya, sehingga penonton yang hadir di aula merasakan ketegangan dan drama.
Saribanon terbelalak, menyadari ada kostum Mustakaweni yang membuatnya terpukau. Di tengah cahaya remang, Mustakaweni melangkah maju dengan gemulai. Gelang poleng berwarna emas di pergelangan tangannya berkilauan, memantulkan sinar seperti api kecil yang menari. Tubuhnya melenggok penuh pesona, setiap gerakan seperti belati tajam itu, siap menghunus. Tangannya terangkat tinggi, menggambar pola-pola udara dengan gerakan yang begitu anggun namun sarat ancaman. Sorot matanya tajam, menyiratkan amarah dan keyakinan tak tergoyahkan, menatap lurus ke arah Srikandi yang berdiri gagah di hadapannya. Saat musik gamelan mencapai klimaksnya, Mustakaweni memutar tubuhnya dengan lincah, gelang emasnya beradu, menghasilkan denting halus yang terdengar seperti peringatan pada Srikandi, kalau ia akan bertarung penuh kehormatan.
Semua bertepuk tangan, bahkan ada yang sampai berdiri dan bersorak ketika Dinda serta Arina yang memerankan Mustakaweni, membungkuk di hadapan penonton, memberikan sembah penghormatan kepada mereka yang hadir.
Di barisan paling depan, Awing sampai berkaca-kaca menatap ke arah panggung yang disoroti lampu pijar warna-warni. Saribanon menoleh ke arahnya, sudah lama ia tak melihat sang bapak menangis terharu menatap karya yang diciptakan olehnya dengan sangat apik. Ia mencari-cari sosok yang berada di balik kilau dan pesona pertarungan yang dramatis itu. Dalam hati, Saribanon bertanya-tanya kenapa Awing akhirnya membolehkan Damar menggunakan gelang poleng berwarna emas.
Di belakang panggung, Damar dengan sigap menyiapkan segala kebutuhan para penari yang tadi pentas. Ia tersenyum puas, melihat Dinda dan para penari berlari berhamburan ke belakang layar. Bahkan, Dinda menangis terharu ketika beberapa penonton memberikan rangkaian bunga untuknya, sebagai bentuk apresiasi.
“Mar… makasih ya,” ucap Dinda tulus, dan ia nyaris memeluk Damar ketika lelaki itu mengucap selamat padanya. Mereka berhadapan dengan jarak teramat dekat.
“Aku yang harusnya berterima kasih Din, bisa ikut dilibatkan dalam pergelaran seindah tadi. Kamu menari dengan baik,” ucap Damar. Jaraknya yang terlampau dekat dengan Dinda membuatnya gugup.
Dinda tersenyum lebar. “Kamu juga hebat, Mar.”
“Hei!” Dari arah belakang, seseorang menjawil lengannya. “Selamat ya, pertunjukannya sukses.” Saribanon tersenyum lebar. Dengan gaun panjang, dan rambut diurai, ia terlihat berbeda.
Damar tergagap, tak berani memandangi perempuan di hadapannya—yang tiba-tiba membuat wajahnya memanas. “Makasih… Sari.”
Saribanon memiringkan kepalanya. “Selamat ya, Dinda. Tarian kamu tadi indah sekali.”
Dinda mengangguk, sambil tersenyum sepintas. Sorot matanya, menatap Damar dan Saribanon bergantian. “Mmm, aku ganti baju dulu.”
Tatapan Saribanon mengekori langkah Dinda, yang menghilang ke ruang ganti. “Mar….”
Damar yang sedari tadi sibuk mengepak barang-barang untuk dia simpan kembali ke lemari kostum Awing, menoleh ke arah Saribanon. “Ya, Sar?”
“Menurutmu, Dinda menarik?”
Damar yang ditanya sedemikian rupa, sontak terbatuk-batuk, wajahnya merah seperti udang rebus. Ia terbelalak. “Di-dinda? Mm… maksudnya menarik sebagai penari?”
“Sebagai seorang perempuan, Mar. Menurutmu, dia menarik sebagai seorang perempuan?”