Mesin Jahit Bapak Awing

Foggy FF
Chapter #14

Sawala Rimba

Senja mulai tenggelam perlahan. Langit di utara Kota Bandung itu terbakar kelabu, lapisannya membiaskan cahaya terakhir yang bersembunyi di balik awan. Saribanon mengerjap, menatap seulas jingga yang membius pandangannya; sebuah mahakarya langit yang selalu memaksanya bertasbih dalam hati. Ia teringat akan kebesaran Sang Pencipta yang membentangkan semesta sejernih langit di rumahnya waktu kecil dulu. Tatapannya lantas kembali lagi ke layar laptop, sambil menghela napas. Suara gemerisik kertas dan detak jarum jam membuatnya kembali tersadar, sore itu berjalan seperti harmoni, di sekre Sawala Rimba yang mulai sepi, semuanya terasa baik-baik saja meskipun sebetulnya tidak. Saribanon menghela napas lagi. Hawa dingin kawasan Bandung Utara mengembus menusuk tengkuk, memancing pikiran gadis itu berkelana merenungi makna-makna sunyi.

Adha duduk bersandar di seberangnya, sambil mengotak-atik lembar laporan yang akan diterbitkan sebagai buletin. Ia membaca berulang-ulang, catatan perjalanan ke Gunung Lawu tempo hari, sambil sesekali melirik Saribanon yang kelihatan sekali sedang gundah.

“Hei,” panggil Adha, pelan. “Tulisanku kali ini, kok terasa lain, ya? Sepertinya aku kehilangan sesuatu, dalam tulisanku.”

Saribanon yang sedari tadi sibuk melamun—sesekali menulis—lantas mengangkat kepalanya. “Lain kenapa?”

“Mungkin karena kamu nggak ikut, Banon.” Adha menyeringai, memainkan pulpen di jemarinya. “Orang-orang menganggap kita ini, pasangan pendaki yang paling solid.”

Saribanon memutar bola mata, tapi ia tetap mendengarkan. Lantas kembali fokus ke layar laptopnya.

“Masih banyak yang mau ditulis?”

Saribanon mengangguk. “Skripsiku ini juga mengalami hal yang sama, Dha. Kurang bumbu, rasanya kok makin seret buat diteruskan.”

“Apa yang mau kubantu?”

Melihat wajah Adha yang sok serius, Saribanon malah tertawa. “Kamu itu mahasiswa teknik mesin, tahu apa soal kerjasama bilateral.” Ia berdecak, tawanya berhenti. “Aku sendiri juga bingung, kenapa dulu pilih jurusan Hubungan Internasional.”

“Itu namanya takdir, kalau kamu bukan anak Fisip, kita nggak bakalan ketemu lagi. Inget, nggak? Sejak SMP, kita tuh sama sekali nggak pernah ketemu lagi,” tukas Adha.

“Iya, gara-gara kamu pacaran sama anak kampusku kan, malah jadi sering ketemu,” balas Saribanon. “Mantan-mantanmu maksudnya, saking banyaknya.”

Adha tergelak, matanya menyipit mengamati gadis di hadapannya. “Kamu kenapa, sih? Kok, kayaknya ruwet banget?”

“Aku... aku merasa sebagian diri aku tuh tersangkut di dua dunia, Dha.” Saribanon membuang pandangannya ke arah jendela, menerawang langit jingga di luar sana, menyadari betapa kecilnya ia di hadapan penciptaan yang begitu agung. “Sejak aku bantu Bapak, ada sebagian diriku yang mulai tertarik sama proses bikin kostum.”

Dua dunia, kata-kata itu seperti memancing sesuatu di pikiran Adha, ia terlihat ikut berpikir. “Maksudnya?”

“Dunia yang aku maksud itu, ya tradisi, cara menata kostum, dan tentunya hidupnya seorang Awing Atmadilaga.” Saribanon bicara dengan nada serius, menimbang relasi antarmanusia yang rumit. “Dunia yang lainnya itu... tempat aku menapak di keheningan hutan. Buatku, rimba bukan sekadar pelarian kebebasan, Dha. Melintasi alam adalah caraku berdoa, aku dapet makna terdalam dari keberadaanku di dunia.” Ia kembali menghela napas, matanya memancarkan kegamangan.

“Aku paham maksudmu,” jawab Adha mengangguk-angguk, ia berpindah tempat duduk sambil mengamati layar laptop sahabatnya itu.

Sore menjelang malam itu, Saribanon memilih tenggelam dalam skripsinya, menyerahkan dirinya pada segala kerumitan teori diplomasi negara-negara di kawasan Asia Tenggara. Ia ingin menyelesaikan studi, seperti janjinya pada Awing.

Adha menepuk satu titik di sebelah jok kursi Saribanon, pelan. “Kamu akan berhasil, Banon. Aku tahu, kamu nggak mungkin menyerah di titik ini. Kamu bisa mengikuti dua dunia itu asal kamu tetap menikmatinya, dan nggak merasa terbebani.”

“Kamu yakin?”

Adha mengangguk, ia menatap Saribanon dengan sorot cemas. “Aku khawatir sama kamu belakangan ini.”

Saribanon mengangkat alis. “Aku? Kenapa?”

“Aku tuh, merasa lambat laun seperti kehilangan sosok Saribanon… sahabatku.”

Sontak, Saribanon tergelak, ia melemparkan bandana miliknya ke arah Adha. “Lebay kamu, Dha! Kehilangan gimana maksudnya?”

Adha menangkap bandana milik Saribanon, sambil memberengut. “Ya, merasa jauh. Kamu sibuk mengurus pertunjukan kemarin itu. Padahal aku pengen cerita, perjalananku ke Gunung Lawu.” Adha menatap jemari Saribanon yang kembali sibuk mengetik. “Aku merasa kamu… lain.”

Saribanon tergelak. Meski ia dan Adha sudah berkawan sejak lama, tapi jarang sekali ia menemui sisi-sisi lembut sahabatnya itu. “Jadi kamu kehilangan aku?”

Adha berdeham, ia menunduk. “Boleh tanya sesuatu?”

Saribanon masih tak acuh. “Apa?”

“Asisten bapakmu itu, dekat sama kamu?”

Meski tak langsung mengangkat wajah, Saribanon menunggu lanjutan penyelidikan sahabatnya. Ia diam memikirkan jawaban yang tepat. “Kenapa memangnya? Aku terlihat dekat sama dia?”

“Ditanya kok malah balik nanya,” protes Adha. Ia menutup layar laptop Saribanon dengan tangannya. “Kamu tahu kan, pengalamanku selama ini?”

“Sebagai playboy maksudnya?” Saribanon terkekeh. “Aku tahu pengalamanmu, lebih banyak dari pengalamanku, Dha. Tapi aku lebih punya kesadaran dibanding kamu.”

Adha mendengkus. “Tetap aja, Banon. Kamu nggak tahu pikiran laki-laki.” Ia menghela napas. “Aku cuma nggak mau kamu ada yang mainin.”

“Memangnya, Damar ada potensi bisa mainin aku?” Pertanyaan Saribanon, mengundang wajah masam Adha.

“Sedekat apa sih, kamu sama si Damar ini?” Adha kembali menginterogasi, kali ini sedikit tajam. “Aku cuma belum pernah lihat kamu dekat dengan cowok manapun Banon, kecuali mantanmu zaman SMP itu.”

Saribanon kembali tergelak. “Yang mau kamu pukuli, cuma karena kita berdua ribut soal bioskop.”

Adha masih mengamati wajah sahabatnya. “Kalau sampai dia kurang ajar sama kamu, bilang sama aku, ya?”

Agam dan Billy yang tadinya sedang membereskan kamera jarak jauh, duduk mengelilingi Adha dan Saribanon. Billy yang menanggapi. “Nggak ada kamu kemarin, Adha jadi pendiam, lho.”

Adha menangkupkan tangan di wajah. “Please, deh, Bil….”

Mereka lantas terbahak, termasuk Saribanon. Meskipun entah kenapa, jantungnya tiba-tiba berdebar. Ia melirik ke arah Adha, yang wajahnya merah padam. Saribanon belum pernah melihat Adha seperti ini.

Lihat selengkapnya