Mesin Jahit Bapak Awing

Foggy FF
Chapter #15

Omyang

Awing Atmadilaga jatuh dari tangga, saat ia hendak naik ke kamar Saribanon, untuk mengecek keberadaan putrinya. Padahal Awing tahu, Saribanon adalah manusia bebas yang punya banyak aktivitas di luar rumah. Hati Awing jadi risau dengan jarak emosional yang kian jauh, sehingga naluri seorang bapak membawanya untuk menyapa, mengindahkan gengsinya selama ini. 

Lorong menuju tangga kamar Saribanon memang gelap. Cangkir teh di tangannya—yang sengaja ia buatkan untuk Saribanon—jatuh berkeping-keping. Kakinya terkilir, ia terpaksa mengakui kalau tubuhnya tak lagi sekuat dulu. Pergelangan kakinya bengkak, meski tak harus dilarikan ke rumah sakit, Ia sudah membuat satu rumah khawatir. Damar, asistennya yang setia, menolongnya kembali ke kamar, diikuti Saribanon yang masih tak bisa diam karena cemas.

Awing menolak untuk dibawa ke rumah sakit. Dia merasa tak ingin memperlihatkan kelemahannya, bukan hanya pada Damar, tapi terutama pada Saribanon. Di tengah keheningan kamarnya, dengan kaki yang memar dan bengkak, jiwanya ikut terluka. Awing mulai mempertanyakan arti dari setiap pencapaian dan pengorbanan yang pernah ia lakukan. Ia mulai bertanya-tanya, apakah sudah saatnya ia menyerah, dan berhenti membuat kostum, membiarkan keahliannya itu tak diturunkan pada orang yang ia kasihi.

Kelelahan dan kekecewaan yang merayapi benaknya, membuat ia memutar ingatan ke masa lalu. Sambil tergolek di atas kasur, ia memikirkan saat nama besarnya sebagai maestro kostum tradisional, menjadi satu-satunya pencapaian yang ia banggakan. Tapi kini, setelah pertunjukan Srikandi Mustakaweni yang ia persembahkan sebagai puncak kariernya, belum ada lagi pesanan datang. 

Dalam hati, Awing mulai mempertanyakan pilihan hidupnya—apakah semua usahanya sia-sia? Apakah makna dari hidup yang dihabiskan untuk sebuah seni, mungkin hanya berarti untuk dirinya sendiri? Untuk pertama kalinya, Awing merasa dirinya kehilangan arah dan tujuan. Keseimbangan antara ambisi, warisan, dan kebahagiaan keluarga yang ia jaga selama ini perlahan retak, dan ia sadar bahwa anaknya sekalipun punya prinsip hidup berbeda darinya, dan menganggap apa yang Awing perjuangkan sudah ketinggalan zaman.

“Pak… beras kencurnya aku oles lagi, ya?” Saribanon mendekat. Ia duduk di tepi kasur.

Awing tak menjawab, ia sibuk menahan air mata agar tak jatuh. Mengasihani diri dalam batin sendiri saja, sudah membuatnya rapuh, apalagi sampai dilihat oleh putrinya sendiri.

“Bapak apa-apaan sih, gelap-gelap mau naik ke atas? Bapak mau ke lemari kain? Ngapain bawa-bawa teh panas?” Saribanon menghela napas. Ia membalur pergelangan kaki Awing yang bengkak. “Untung nggak sampai melepuh.”

Awing masih diam, bibirnya gemetar menahan emosi, kata-kata Saribanon menusuk hatinya yang beberapa minggu ini mudah sekali terluka. Sejak pagelaran Srikandi Mustakaweni, Awing kehilangan selera makan. Seperti kisah hidupnya yang sunyi, orang-orang yang tadinya datang menghampiri, lambat laun pergi karena sudah tak lagi punya kepentingan.

Dari celah pintu, Damar memandangnya dengan ekspresi wajah tak bisa ditebak. Pemuda itu mendengarkan cara Saribanon bicara padanya, keningnya mengerut. Ia membuka pintu pelan-pelan. “Pisang rebusnya sudah jadi, Pak.”

“Taruh saja di meja, Mar,” ucap Awing pelan. Layaknya angin sejuk, sikap Damar yang terlihat tulus melayaninya, seperti penawar kesedihan Awing malam ini. “Kain di bawah, bereskan saja, Mar.”

Damar menoleh, ia berjalan pelan ke arah meja sebelah kasur Awing, menaruh sepiring pisang rebus. “Mumpung masih panas, Pak. Mang Oleh yang tadi petik pisang kepok di belakang.”

Tanpa Awing sadari, bibirnya melengkungkan senyum, hatinya menghangat. “Makasih, Mar.”

Saribanon mengamati interaksi Awing dan Damar, ia menaruh piring beras kencur yang tadi dibuatkan Damar. “Sudah malam, Pak. Sebaiknya Bapak istirahat.”

Sebelum Saribanon beranjak, Awing tiba-tiba memanggil nama keduanya. “Mar… Banon, saya pengen bicara sama kalian berdua,” ucapnya parau.

Saribanon memandangi Awing dan Damar bergantian. “Soal apa, Pak?”

Awing terlihat susah payah menelan ludah, ia mengumpulkan kekuatan. “Sa-saya, mau pensiun aja. Semua bahan-bahan, silahkan disumbangkan saja ke kampus, dan mesin jahit di bawah tolong ditaruh di gudang.”

Saribanon mengangkat alis, ia membuka mulut tapi tak bisa berucap sedikitpun. Berbeda dengan Damar, pemuda itu menunduk, terlihat menahan emosi. Ia akhirnya memutuskan beranjak, mengikuti kemauan Awing.

“Mar….”

Damar menoleh, mendengar namanya dipanggil. “Ya, pak?”

“Kamu boleh tetap tinggal di sini, kamu melukis saja di kamar belakang.”

Damar mengangguk lemah. Ia lantas pergi, dengan tangan mengepal. 

“Bapak kenapa tiba-tiba memutuskan hal ini? Kok, nggak dibicarakan dulu sama aku dan Damar?”

Awing menatap Saribanon, dengan wajahnya yang terlihat semakin renta. Ia menggeleng. “Bapak sudah capek, Banon.”

Ucapan Awing, membuat wajah Saribanon muram. Ia kembali duduk di tepi kasur. “Capek dengan pekerjaan, Pak? Atau capek menghadapi aku?”

“Semuanya,” gumam Awing. Ia meraih pisang rebus di meja, dan mengupasnya. “Bapak mau makan dulu, dari siang tadi belum makan. Baru sekarang tiba-tiba lapar, lihat pisang rebus ini.”

Saribanon mengangguk. “Aku pamit istirahat ya, Pak. Bapak tidur aja, besok kita pikirkan yang Bapak bilang barusan.”

Dalam langkahnya menuju bengkel Awing di paviliun rumah utama, Saribanon terpekur. Ia membayangkan, apa yang akan seorang Awing Atmadilaga lakukan, tanpa membuat kostum. Apakah ini rencana yang baik? Apakah Awing, bapaknya sudah ingin menyerah karena anaknya tak terlihat ingin meneruskan jejaknya sebagai pembuat kostum?

Di dalam ruangan, yang hanya diterangi lampu kecil dari rak buku. Damar duduk bersila, sambil melipat kain-kain batik dan merapikan kotak payet yang berserakan.

Lihat selengkapnya