Mesin Jahit Bapak Awing

Foggy FF
Chapter #16

Mincid

Saribanon duduk di salah satu sudut taman sekretariat pencinta alam, sebuah kampus pertanian di Bogor. Ia memandang hamparan pepohonan rimbun di bawah langit mendung kawasan Parung. Angin dingin yang meriut di sela dedaunan seakan menjadi ayat-ayat semesta yang sedang ia eja. Namun, di tengah kekhusyukan batinnya, meskipun baru beberapa hari meninggalkan rumah, ada rasa yang tak bisa ia bendung. Sebuah rindu yang amat sangat, tak hanya pada rumah, tetapi pada kehidupan kecil di kampung halamannya, pada suasana yang nyaman, pada kehadiran orang-orang yang belakangan membuat ia sering melamun.

Adha menghampirinya, menatap Saribanon penuh selidik. "Kok ngelamun? Ada yang lagi dikangenin, ya?"

Saribanon cuma mengangkat alis, ia mengibaskan tangannya. Sambil meraih sepotong talas bogor di dalam piring yang dibawakan Adha. Masih hangat dan mengepul. "Tau aja lagi kangen rumah. Kalo lagi dingin gini suka kangen rumah, sama makanan yang begini-begini nih, Dha."

Adha mengerutkan dahi, ia merasa ada sesuatu yang lebih dari sekadar rindu rumah. "Ini bukan cuma soal dingin, kan? Jangan-jangan, yang dikangenin bentuknya manusia?"

Saribanon tersedak, ia menepisnya cepat. “Ya, bapaklah, siapa lagi.”

“Kirain…,” ucap Adha menggantung. Ia mengamati Saribanon dari ujung matanya, gadis itu terlihat canggung. “Hujan gini, kalo lagi di gunung, kita lagi ngapain, ya?”

Saribanon tidak lekas menjawab. Ingatannya melayang pada kabut basah yang kerap turun menyelimuti puncak, momen di mana ia biasanya terdiam, meresapi kesunyian. Ia sibuk mengunyah talas bogor yang dinikmatinya, membiarkan ingatan itu mendekapnya sesaat.

Akhirnya Adha duduk berhadapan dengan Saribanon, ia menatap manik mata gadis itu. “Banon, jawab aku jujur, ya. Sedekat apa sih, kamu sama yang namanya Damar itu?”

Ditanya begitu, Saribanon langsung terbelalak. “Damar? Dia kan cuma asisten Bapak."

Adha menghela napas. "Cuma asisten? Tapi kamu sering banget cerita tentang dia, cara dia bantuin bapakmu bikin kostum, bahkan cara kamu menceritakan dia tuh, beda banget. Jangan-jangan, ada sesuatu yang aku nggak tahu," selidik Adha.

Saribanon membuang napas, ia menundukkan kepala sejenak. Damar adalah sosok penuh kontradiksi, yang belakangan mengisi beberapa kekosongan di hatinya, terutama saat ia merasa bahwa dunia bapaknya terasa semakin jauh darinya. Saat jauh, kini ia sering merasa merindukan… rumah. "Bukan, seperti itu sih, Dha. Mungkin aku cuma ingin lebih dekat dengan Bapak… lewat Damar. Dia itu… seperti jembatan di antara kami."

Adha terdiam, menyadari betapa berubah cara Saribanon mengisahkan Damar, dan belum pernah sepanjang hidupnya, Saribanon memuji sosok laki-laki selain bapaknya. Tapi, ia tak ingin memperpanjang perdebatan, hanya mengangguk. “Aku cuma nggak mau kamu dipermainkan orang, Banon.”

Saribanon menyeringai, sesuatu terlintas dalam benaknya. “Kamu cemburu?”

Tanpa gadis itu sangka, Adha mengangguk. “Aku kehilangan Saribanon, aku kehilangan sosok sahabatku. Entah kenapa aku merasakan itu, sejak di rumah kamu ada laki-laki bernama Damar itu.”

Kejujuran Adha membuat Saribanon sadar akan banyak hal, tetapi bingung harus menjawab apa. “Waktu aku punya pacar dulu, kamu nggak sampai begini?”

“Iya.” Adha menunduk, ujung jarinya menyentuh punggung tangan Saribanon, dadanya berdegup kencang. “Aku sendiri, nggak tahu.”

Saribanon menepuk punggung sahabatnya. “Mungkin karena ekspedisi terakhir ke Gunung Lawu, aku nggak ikut. Kamu kangen aku,” ucapnya menetralkan, tetapi ia tak bisa memungkiri, ada rasa canggung yang memenuhi isi hatinya. Bukan Adha yang seperti ini, yang Saribanon butuhkan sekarang.

Lihat selengkapnya