Mesin Jahit Bapak Awing

Foggy FF
Chapter #17

Lontang Kembar

Sawala Rimba adalah lebih dari sekadar komunitas ekspedisi pencinta alam; ia adalah sebuah rumah bagi jiwa-jiwa yang terpaut pada denyut nadi alam bebas. Di dalamnya, berkumpul para pegiat lingkungan hidup dan anak-anak muda yang menyimpan cinta mendalam pada gunung-gunung menjulang megah, hutan-hutan rimbun yang sehat, laut biru nan luas, dan setiap sudut keajaiban bumi. Dengan dedikasi yang mengakar, mereka menjelajahi alam sembari merawatnya, menanamkan nilai-nilai tanggung jawab ekologis di setiap langkah kaki. Dalam ekspedisi mereka, tawa dan peluh menyatu menjadi semangat menjaga keseimbangan, sembari memupuk rasa syukur akan kebesaran alam. Mereka percaya bahwa petualangan bukan hanya soal mencapai puncak, tetapi juga tentang memahami bahwa setiap elemen alam adalah bagian dari kehidupan yang harus dijaga bersama.

Adha Sanusi Hadiningrat, adalah salah satu sosok manusia muda yang mengikuti ekspedisi alam bebas sejak ia masih duduk di bangku SMP. Baginya, merambah alam bebas, tak semata untuk menaklukkannya, tapi juga mencintainya sepenuh hati. Setiap mimpi Adha di masa depan, selalu ia dedikasikan untuk alam semesta. Ia ingin menjadi sosok yang sedikitnya bisa menjadi panutan anak-anak muda sesamanya, dalam mencintai lingkungan hidup.

Lain halnya dengan Saribanon. Jika Adha memandang alam sebagai masa depan yang harus dilindungi, bagi Saribanon, setiap jengkal hutan dan napas samudra adalah ruang kontemplasi. Kecintaannya pada alam bukanlah sekadar akar perjuangan ekologis, melainkan jalan spiritual untuk merengkuh keagungan Sang Pencipta. Baginya, setiap daun yang gugur dan aliran sungai yang jernih adalah ayat-ayat Tuhan. Menjaga keseimbangan ekologi, dalam pandangan Saribanon, adalah amanah mutlak keilahian bagi manusia sebagai khalifah di bumi.

Sepulangnya dari Bogor, Adha, Saribanon, Billy dan Agam menyempatkan diri untuk menyambangi kantor WALHI di Jakarta. Mereka tiba menjelang siang, saat sinar matahari menyelinap di antara gedung-gedung tinggi. Kantor WALHI yang sederhana namun penuh semangat perjuangan itu, berada di sebuah ruko tua berlantai dua. Dindingnya dihiasi mural tentang perjuangan lingkungan—pepohonan yang berdiri kokoh melawan arus pembangunan dan sosok-sosok masyarakat adat yang memegang tameng dedaunan. Di dalam, ruangan terasa hidup dengan papan-papan berisi peta, diagram, dan foto-foto ekspedisi sebelumnya yang dipajang bersama poster bertuliskan “Lawan Perusakan, Jaga Kehidupan.” Aroma kopi hitam menguar dari sudut ruangan, tempat para aktivis sibuk mengetik laporan atau berdiskusi serius di meja-meja kecil.

Adha melirik sebuah peta besar di dinding yang penuh coretan lingkaran dan panah. Itu adalah peta ekspedisi berikutnya—menjelajahi kawasan hutan di perbatasan Kalimantan Timur dan Kalimantan Utara yang terancam oleh pembukaan tambang batu bara. Tim WALHI sudah memetakan wilayah kritis yang perlu diteliti lebih lanjut: sungai-sungai kecil yang menjadi sumber air bagi desa-desa terpencil, habitat orangutan yang terancam, serta bukti-bukti aktivitas ilegal yang harus segera didokumentasikan.

“Kami butuh tim yang kuat untuk ekspedisi ini,” ujar salah satu koordinator WALHI, seorang pria berambut gondrong. “Selain riset lapangan, kita juga harus membawa cerita dari hutan ini ke publik.”

Adha dan teman-temannya mengiyakan. Sawala Rimba siap membawa semangat muda mereka ke ekspedisi ini. Bagi mereka, ini bukan hanya tentang menyelamatkan lingkungan, tapi juga menyelamatkan masa depan mereka sendiri.

Namun, di barisan paling belakang, Saribanon terlihat muram. Hatinya perih melihat peta kerusakan itu. Baginya, setiap jengkal tanah yang digali dan pohon yang ditumbangkan paksa bukan semata krisis lingkungan, melainkan luka pada ciptaan-Nya, sebagai bentuk keangkuhan manusia. Di tengah kepedihan batinnya, kecemasannya merambat pada hal lain yang lebih personal, sambil menepuk ponselnya dengan gemas.

“Kenapa?” Adha mendekatkan posisi duduknya. “Kok, bete banget?”

Saribanon menoleh, ia menatap Adha dengan wajah makin ditekuk. “Bapak dan Damar nggak bisa dihubungi, Dha.” Ia menghela napas “Perasaanku nggak enak.”

Entah apa yang terlintas di benak Adha, ia lekas meraih ujung jari sahabatnya itu, lalu meremasnya. “Sehabis rapat ekspedisi, aku anter kamu pulang pakai motor biar cepat. Kamu jangan khawatir, kita nggak bakalan lama di sini.”

Sekelebat bayangan Awing, terus menerus terlintas di benak Saribanon, apa daya, ia lekas mengangguk. Menekan sejenak perasaan khawatir dan rindunya pada rumah.

Rapat berlanjut, diselingi tawa para aktivis lingkungan dari WALHI dan komunitas pencinta alam lainnya, yang juga turut bergabung merencanakan perjalanan bulan depan. Dan kampanye sosialisasi pertama itu, mengambil tempat di sebuah hutan Jawa Barat, di Leuweung Sancang Garut. Leuweung Sancang akan menjadi titik publikasi kampanye pertama, dan mereka butuh eksposur besar-besaran.

Di hadapan mereka, layar proyektor menampilkan grafik kehilangan hutan yang terus meningkat, garis-garis statistik yang menanjak. 

Adha maju ke depan. “Kita bukan hanya bicara soal data,” suaranya mantap. “Data itu penting, ya, tapi jangan lupa, di balik angka-angka ini ada suara. Suara masyarakat adat yang hidupnya jadi taruhan. Kalau kita hanya bicara angka, kita akan kehilangan jiwa perjuangan ini.” Pandangannya menyapu wajah-wajah di ruangan, memastikan semua mata bertemu dengannya. "Mereka butuh kita, bukan untuk mencatat penderitaan mereka, tapi untuk berdiri bersama mereka. Kita harus jadi suara mereka."

Sunyi sejenak, lalu seseorang mulai mengetuk meja, diikuti yang lain. Perlahan, rapat itu berubah, bukan sekadar laporan, melainkan komitmen—untuk manusia, bukan hanya hutan. Sambil melirik Saribanon, yang cemas di wajahnya mulai lumer, Adha melemparkan senyum.

Ada degup ganjil di dada Saribanon melihat perangai Adha belakangan ini, sejak pulang dari Gunung Lawu, sahabatnya terasa lebih dekat dan seperti takut kehilangan. Bahkan, ia merasakan ada hal lain yang membuat Adha begitu memproteksi dirinya. “Bil?” Ia mendekatkan bahunya, berbisik ke arah Billy yang duduk bersebelahan dengannya dalam rapat.

“Ya?” Billy memiringkan kepalanya. “Kenapa?”

Lihat selengkapnya